ilmiah

PERENCANAAN PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING DENGAN SPRITE (SPEED READING TECHNIC) DALAM PENINGKATAN KECEPATAN MEMBACA BERORIENTASI KARAKTER OLEH WITRI ANNISA

  1.  Pendahuluan

Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, salah satu keterampilan membaca, yaitu kemampuan membaca cepat perlu dilatihkan kepada setiap orang sejak dini. Penyebaran informasi semakin cepat, baik dari media cetak maupun elektronik. Ada lebih dari 10 buah koran yang terbit setiap hari, seperti Republika, Kompas, Media Indonesia. Ada lebih dari 10 majalah yang terbit  setiap minggu/dua mingguan, seperti: Adil, Forum, Gatra, Tempo dan sebagainya. Ada berapa buku baru dan buku edisi revisi setiap tahun diterbitkan. Ada berapa artikel ilmiah yang berhubungan dari berbagai profesi ditulis setiap tahunnya. Ribuan data sekarang masuk dalam proses dijitasi ke dalam komputer (LMT Trasco:2008). Semua informasi dari berbagai media tersebut dapat diperoleh dengan mudah, tetapi tidak semua informasi juga bisa dibaca. Hal tersebut, terjadi karena keterbatasan waktu yang dimiliki dan kecepatan membaca pun rendah.

Keterampilan membaca cepat telah diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia salah satunya pada tingkat Sekolah Mengeah Atas (SMA). Sebagaimana telah terdapat dalam standar isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dasar dan menengah. Salah satu Kompetensi Dasar (KD) yang harus dimiliki siswa adalah membaca cepat. Untuk kelas X membaca cepat 250 kata per menit (KPM), kelas XI membaca cepat 300 KPM, dan kelas XII membaca cepat 350 KPM (Mulyasa, 2006:46-53). Berbagai penelitian tentang kemampuan membaca dan keterbacaan di Indonesia masih perlu banyak dilakukan agar dapat ditentukan pemetaan yang nyata atas keberadaan pembaca dan bacaan dalam buku-buku pelajaran yang digunakan di sekolah. Baik studi tentang bacaan maupun pembaca, hasilnya menunjukkan hal yang kurang menggembirakan. Artinya, keterbacaan buku-buku pelajaran maupun kemapuan membaca siswa terhadap bacaan masih tergolong rendah (Suryaman, 2001).

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, keterampilan membaca cepat jarang dilatihkan kepada anak usia sekolah karena keterbatasan waktu yang dimiliki guru untuk melatihkan keterampilan tersebut. Metode dan teknik membaca yang diterapkan untuk melatihkan keterampilan membaca cepat belum efektif dan terkesan monoton. Akibatnya, kemampuan membaca anak relatif rendah terutama dalam kecepatan membaca dan pemahaman bacaan. Selain itu, rendahnya minat baca juga menjadi faktor pendukung rendahnya tingkat kecepatan membaca. Dengan minat baca yang tinggi, motivasi membaca akan semakin tinggi sehingga dengan sendirinya tumbuh kebiasaan membaca dan kecepatan membaca semakin meningkat.

Menyikapi permasalahan tersebut perlu penerapan teknik baru yang efektif sebagai upaya dalam mengatasi masalah. Salah satunya adalah Teknik Sprite (Speed Reading Technic). Penerapan teknik tersebut cukup sederhana, mudah, dan praktis untuk melatih kecepatan membaca. Langkah-langkah Sprite ada lima, yaitu adanya motivasi membaca, latihan periferal (perluasan pandangan mata), latihan kecepatan gerakan mata, survei jenis bacaan, konsentrasi. Sprite dapat diterapkan untuk anak usia sekolah menengah, tetapi tidak tertutup kemungkinan orang dewasa juga dapat menerapkan teknik tersebut. Teknik Sprite ini didasarkan pada pendekatan Quantum Learning.

Pendidikan karakter sebagai bagian integral dari keseluruhan tatanan sistem pendidikan nasional maka harus dikembangkan dan dilaksanakan secara sistemik dan holistik. Dalam dunia pendidikan, pendidikan karakter dapat diimplementasi dari penyusunan pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dengan Sprite dalam Quantum Learning dapat disusun dengan memasukkan nilai-nilai karakter yang dapat membentuk nilai moral yang positif. Dalam hal ini, nilai moral yang berkaitan dengan keterampilan membaca cepat. Kaitan antara karakter dengan membaca dapat dilihat dari apa yang ingin dibaca, jumlah yang dibaca, sikap membaca, lama waktu membaca,  apa yang dipahami dari bacaan.

Pelaksanaan teknik Sprite memerlukan perencanaan yang baik. Perencanaan tersebut disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, yaitu meningkatkan kemampuan membaca cepat. Penyusunan perencanaan pembelajaran dilengkapi oleh beberapa unsur. Menurut Sudjana (2010:137) unsur–unsur yang terdapat dalam perencanaan pembelajaran diantara tujuan, bahan atau isi, kegiatan belajar, metode dan alat bantu, evaluasi. Kenyataannya di lapangan, peneliti menemukan bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran khususnya pembelajaran membaca cepat belum efektif. Hal tersebut terbukti tidak tercapainya tujuan pembelajaran secara maksimal. Masih banyak siswa yang belum mampu membaca dengan cepat sesuai sesuai dengan KD. Selain itu, dalam RPP yang disusun, guru tidak memasukkan nilai-nilai karakter keterampilan membaca. Dengan demikian, RPP membaca cepat perlu disusun secara efektif dengan Sprite dalam Quantum Learning yang berorientasi pada nilai-nilai karakter.

 2. Perencanaan Pembelajaran Bahasa

Perencanaan pembelajaran merupakan tindakan yang dilakukan pada waktu melaksanakan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dibuat sebelum guru mulai mengajar. Menurut Brown (1994:396-398) penyusunan perencanaan pembelajaran perlu dilengkapi beberapa unsur, di antaranya sasaran, tujuan, materi dan perangkat mengajar, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi, kerja ekstra. Sejalan dengan Brown, Sudjana (2010:137) menyatakan unsur–unsur yang terdapat dalam perencanaan pembelajaran diantara tujuan, bahan atau isi, kegiatan belajar, metode dan alat bantu, evaluasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan perencanaan pembelajaran bahasa khususnya dapat disusun dengan melengkapi unsur-unsur tersebut dan tetap mengacu pada keempat keterampilan berbahasa.

Berikut adalah prosedur kerja penyusunan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang diterbitkan Direktorat Pembinaan SMA tahun 2010.

Dari prosedur kerja tersebut, terlihat jelas bagaimana penyusunan RPP yang ber-input dari undang-undang lalu diproses dari kepala sekolah sampai guru mata pelajaran dan akhirnya menghasilkan output RPP yang ideal.

3. Kemampuan Membaca Cepat

Kecepatan membaca dan pemahaman bacaan merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam proses membaca membaca, keduanya merupakan satu kesatuan. Kecepatan membaca jelas mengacu pada kecepatan memahami bacaan. Kecepatan membaca dan pemahaman bacaan saling memengaruhi. Kecepatan membaca yang rendah tidak secara langsung menghasilkan pemahaman yang lebih baik, sementara kecepatan membaca yang tinggi juga tidak secara otomatis melahirkan pemahaman yang lebih buruk (Wainwright, 2007:41).

Kemampuan membaca cepat terdiri dari kecepatan membaca dan pemahaman bacaan. Menurut Soedarso (2004:14) kecepatan membaca seseorang juga dapat diukur dengan rumus berikut ini:

Jumlah kata yang dibaca x 60 = ….  KPM

Jumlah detik untuk membaca

Selanjutnya, Nurhadi (1987:21) mengklasifikasikan tingkat kecepatan membaca seseorang atas tiga kriteria yakni rendah, sedang, cepat dan efektif. Apabila kecepatan membaca seseorang  berkisar antara 175-250 KPM kecepatan tersebut tergolong rendah sedangkan bila berkisar antara  250-350 KPM tergolong sedang. Kecepatan membaca 400-500 KPM atau lebih dikatakan sebagai pembaca yang cepat dan efektif.

Cara mengukur pemahaman bacaan siswa menurut Harjasujana dan Mulyati (1997:156) dapat digunakan rumus berikut ini.

Kemampuan pemahaman bacaan =  Jumlah jawaban betul  x 100 %

Jumlah soal

Menurut Asep Sadikin, dkk (dalam Aritonang, 2006:21) pemahaman isi bacaan terdiri dari lima kategori diantaranya sebagai berikut. Pertama, 91% – 100% jawaban benar = baik sekali. Kedua, 81% – 90% jawaban benar = baik. Ketiga, 71% – 80% jawaban benar = sedang. Keempat, 61% – 70% jawaban benar = kurang. Kelima. …- < 60% jawaban benar = kurang sekali. Sedangkan, untuk tingkat pemahaman siswa sekolah menengah yang ideal daalah 75% jawaban yang benar.

Pengukuran kemampuan membaca cepat dapat dilakukan setelah kecepatan membaca dan pemahaman bacaan diketahui. Untuk mengetahui kemampuan membaca cepat seseorang dapat menggunakan rumus di bawah ini.

Kemampuan membaca =  Kecepatan membaca x % jawaban yang benar

100

=  …. KPM  (Ermanto, 2008:17)

4. Sprite (Speed Reading Technic)

Sprite merupakan teknik baru untuk meningkatkan kemapuan membaca cepat. Teknik tersebut sangat praktis dan dapat diterapkan oleh siapa pun. Sprite merupakan latihan yang dilakukan dengan melakukan persiapan sebelum memulai membaca cepat. Langkah-langkah Sprite antara lain sebagai berikut.

  1. Motivasi

Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca cepat seseorang adalah minat dan motivasi untuk membaca (Miller & Faircloth: Israel & Duffy, dalam Mulyati, 2003). Dengan minat dan motivasi tinggi untuk membaca akan membawa pengaruh positif terhadap kemampuan membaca seseorang. Motivasi membaca yang tinggi dapat mendorong rasa ingin tahu yang lebih tinggi juga. Dengan demikian, dapat mendorong peluncuran gerakan mata secepat-secepatnya.

2. Peningkatan Periferal

Dalam membaca, penglihatan periferal yang lebih luas berarti kemampuan untuk menerima informasi lebih banyak dalam satu waktu. Oleh karena itu, penglihatan periferal perlu dilatih dan ditingkatkan agar lebih luas dan tajam. Cara melatih periferal tersebut adalah dengan melihat secara langsung sebuah objek, rentangkan kedua lengan dengan jari telunjuk mengarah ke atas, gerakan lengan ke dalam secara perlahan-lahan hingga melihat kedua jari merapat, perhatikan cakupan pelihatan mata ketika melihat lurus ke depan (De Porter 2002:271).

3. Kecepatan Gerakan Mata

Kecepatan gerakan mata diperlukan dalam membaca agar terhindar dari kebiasan membaca kata per kata. Keefektifan dan keefisienan gerakan mata perlu dilatihkan agar informasi diperoleh secara maksimal dalam waktu yang singkat. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk latihkan kecepatan gerakan mata salah satunya  adalah dengan diberi lembaran yang berisi simbol tiga bintang bintang tiap barisnya. Bintang tersebut yang menjadi fokus pandangan mata atau simbol tersebut juga dikenal dengan nama Tri Fokus Steve Snyder seperti Gambar 1. Untuk membaca simbol-simbol tersebut dengan memperhatikan bagian kiri dengan fokus pada bintang, bagian tengah, dan bagian yang kanan. Hal ini dilakukan berulang-ulang beberapa menit. Pada saat mata berpindah dari satu bintang ke bintang yang lain lalu hitung dalam hati secara berirama 1, 2, 3; 1, 2, 3 (De Poter, 2002:272).

——*—–  —–*—–  —–*——

——*—–  —–*—–  —–*——

——*—–  —–*—–  —–*——

——*—–  —–*—–  —–*——

——*—–  —–*—–  —–*——

——*—–  —–*—–  —–*——

Gambar 1. Simbol-simbol Tri Fokus Steve Snyder

Latihan memfokuskan mata pada tiga titik bertujuan untuk menghindari membaca kata perkata sehingga dalam satu baris sebuah wacana dibagi menjadi tiga bagian atau tiga frase agar lebih mudah memahami bacaan tersebut.

4. Survei Wacana

Survei atau prabaca merupakan langkah untuk mengenal bahan sebelum membaca secara keseluruhan. Survei dilakukan beberapa menit dengan cara yang sistematis dengan tujuan menentukan jenis baca, menemukan ide-ide penting dan menentukan kecepatan membaca (Soedarso, 2004:60). Setiap jenis bacaan kecepatan membacanya akan berbeda misalnya: jenis bacaan novel (fiksi) akan berbeda dengan jenis bacaan ilmiah (nonfiksi).

Pembaca yang baik akan selalu menyesuaikan kecepatan membaca sesuai dengan tujuan dan kebutuhan. Agar memiliki kemampuan membaca yang baik, faktor lain yang juga berpengaruh adalah tingkat keterbacaan wacana. Bahan

bacaan yang tidak sesuai dengan peringkat pembacanya memiliki tingkat keterbacaan yang rendah. Dengan demikian, faktor keterbacaan wacana berpengaruh terhadap kemampuan membaca cepat seseorang.

Formula keterbacaaan wacana yang dapat digunakan adalah formula Edward Fry. Karena formula ini yang diajukan Fry ini teks bahasa Inggris, maka formula ini tidak sesuai seratus persen untuk teks bahasa Indonesia. Harjasudjana mengemungkakan alterrnatif pengujian keterbacaan teks Grafik Fry (modifikasi). Untuk menguji keterbacaan wacana pada jenjang pendidikan siswa dengan menggunakan Grafik Fry (modifikasi), yaitu menghitung 100 kata hingga puluhan terdekat sebagai wacana sampel, menghitung suku kata wacana sampel, jumlah rata-rata kalimat dan suku kata dikali 0,6, hasil penghitungan dapat dikonvergensikan pada Grafik Fry berikut.

Gambar 2:Grafik Fry

5. Konsentrasi

Membaca merupakan kegiatan aktif memberikan tanggapan terhadap arti yang dibaca. Apabila perhatian difokuskan pada bahan yang dbaca maka gagasan gambaran tentang isi bacaan akan tampak jelas dan mudah dipahami. Kerja sama antara mata dan otak sangat menentukan dalam membaca. Menurut Soedarso (2004:49) konsentrasi sangat diperlukan karena dapat mempermudah memahami bacaan.

Konsentrasi membaca merupakan pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dalam membaca, maka konsentrasi berarti pemusatan pikiran tehadap suatu bacaan dengan mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dengan bacaan tersebut. Kemampuan konsentrasi semuanya merupakan kebiasaan seseorang yang dapat dilatih. Jadi, bukan merupakan suatu yang diwariskan dari orang tua.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk melatih konsentrasi sebelum membaca. Salah satunya adalah latihan untuk meningkatkan konsentrasi menurut Chung Moo II (dalam Soedarso, 2004:50) ada dua cara yang dapat digunakan untuk melatih konsentrasi ”menelusuri benang kusut”, dan ”menghitung titik berderetan”. Selain itu, agar lebih konsentrasi dalam membaca persiapkanlah diri dengan baik seperti minimalkan gangguan dari apapun, duduk dengan sikap tegap dan mulai fokus pada bahan bacaan.

Latihan menghitung titik-titik berderetan

1)        Hitunglah titik yang berderetan vertikal satu demi satu dari atas sampai terbawah dalam waktu dua menit.

Dengan demikian hitung titik yang berderetan horizontal satu demi satu dari kiri sampai titik paling kanan dalam waktu dua menit.

                                       :           :

                                       :           :

                                       :           .

                                       .           .

                                       :           :

               ……………………:………..:………………………………………………….

                                       :           :

               …………………..:………..:……………………………………………………

                                       .           :

                                       .           .

                                       :           :

                                       :           .

                                       .           :

Gambar 2.  Konsentrasi Memusatkan Perhatian

5. RPP Pembelajaran Membaca Cepat yang Berorientasi Karakter

Banyak hal yang menyebabkan ketidakberhasilan pembelajaran membaca cepat. Dengan demikian, perlu dilakukan tindakan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat dengan cara menyusun RPP yang dapat dilaksanakan dengan efektif dan beorentasi karakter. Berikut bentuk RPP pembelajaran membaca cepat yang berorientasi pada nilai-nilai karakter yang disesuaikan dengan alur pengembangan model di atas yang dalam hal ini pengembangan model dengan Sprite yang berorientasi karakter dalam pembelajaran membaca cepat.

RPP yang dirancang dilengkapi dengan instrumen tes diantaranya wacana (teks) membaca cepat yang telah diuji tingkat keterbacaannya yang disesuaikan dengan tingkat kelas siswa, yaitu kelas XI. Pengujian dilakukan dengan Grafik Fry. Wacana yang dipilih adalah kutipan artikel Dr. Isah Cahyani, M.Pd. dengan judul subbagian “Peran Bahasa Indonesia”. Dari pengujian dengan Grafik Fry terhadap wacana tersebut diperoleh rata-rata jumlah suku kata jumlah suku kata 161,7 dan rata-rata jumlah kalimat 5.

Selain penyediaan wacana yang disesuaikan dengan tingkat keterbacaan wacana siswa, dalam penyusunan RPP membaca cepat ini perlu disiapkan beberapa media yang menarik bagi siswa sehingga menarik minatnya untuk membaca melalui latihan dengan Sprite. Media tersebut dapat berupa penyajian materi dengan power point  dan  animasi macromediaflash.

Rancangan Pelakasanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Mata pelajaran             : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester            : XI/2

Program                       : IPA dan IPS

Alokasi Waktu            : 4 x 45 menit (2 pertemuan)

I.            Standar Kompetensi

11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca cepat dan membaca intensif

II.            Kompetensi Dasar

11. 1 Mengungkapkan pokok-pokok isi teks dengan membaca cepat 300 kata per menit

III.            Indikator Pencapaian Kompetensi

  1. Membaca cepat 300 kata per menit
  2. Menjawab secara benar 75% dari seluruh pertanyaan yang tersedia
  3. Mengungkapkan pokok-pokok isi bacaan dengan benar.
  4.   TujuanMelalui demonstrasi dan simulasi diharapkan siswa dapat memiliki kemampuan-kemampuan, seperti membaca cepat 300 kata per menit, menjawab secara benar 75% dari seluruh pertanyaan yang tersedia, mengungkapkan pokok-pokok isi bacaan dengan benar.
  5.                   II.            Materi Pokok
    1. Kiat-kiat membaca yang baik
    2. Kebiasaan buruk dalam membaca dan cara mengatasinya
    3. Cara mengukur kecepatan membaca dan pemahaman bacaan
    4. Langkah-langkah Sprite antara lain sebagai berikut.

    III.          Kegiatan Pembelajaran

    Pendekatan   : Quantum Learning

    Metode         : ceramah, demonstrasi, diskusi

    Model  : Speed Reading

No

Kegiatan

Alokasi Waktu

Nilai-Nilai Karakter

1 Kegiatan Tatap MukaPendahuluan

  1. Menginformasikan KD pembelajaran;
  2. Menjelaskan indikator/tujuan pembelajaran;

Inti

  1. Guru bertanya kepada peserta didik tentang kecepatan membaca yang dimiliki, upaya yang sudah ditempuh untuk meningkatkannya, dan manfaat yang dirasakan dari keterampilan membaca cepat;
  2. Guru menjelaskan kebiasaan buruk dalam membaca dan cara mengatasinya;
  3. Guru memperkenalkan teknik Sprite;
  1. Guru mejelaskan kelima langkah Sprite dan mendemonstrasikanya di depan kelas;
  2. Guru menjelaskan cara menghitung kecepatan membaca dan pemahaman;
  3. Guru mengelompokkan siswa secara berpasangan dengan teman sebangku;
  4. Guru menyusuh siswa latihan Sprite secara bergantian dalam kelompok;
  1. Guru membagikan lembaran teks bacaan dan menugasi siswa yang duduk pada deret kursi sebelah kanan untuk membaca dengan cepat dan paham;
  1. Siswa secara bergantian dengan teman sebangku membaca cepat  teks;
  1. Guru menginformasikan jumlah kata yang ada dalam teks, lalu siswa secara bergantian menghitung waktu tempuh membaca dan membuat catatan perilaku membaca pasangannya;
  1. Siswa mengumpulkan teks bacaan;
  1. Guru membagikan soal dan menginformasikan alokasi waktu pengerjaan soal;
  1. Siswa menjawab soal;
  1. Siswa menukar lembaran jawaban dengan teman sebangku;
  1. Guru dan siswa mengoreksi jawaban;
  1. Siswa menghitung kecepatan efektif membaca pasangannya masing-masing;
  1. Guru memberi penguatan teknik membaca cepat;

Penutup

Peserta didik merefleksikan pembelajaran yang baru saja dilakukan dan menugaskan peserta didik berlatih membaca cepat di rumah, menghitung kecepatan membacanya, menjawab pertanyaan bacaan, dan menghitung keefektifan membacanya. Hasilnya dilaporkan pada pembelajaran berikutnya

 

5 menit

75 menit

10 menit

    Gemar membacaDisiplin, kritis, dan mengahargai

Gemar membaca dan menghargai

Gemar membaca dan  menghargai

Mandiri dan  mengahargai

Kerja sama dan disiplin

Disiplin, optimis, kreatif, dan gemar membaca

Gemar membaca, menghargai, dan kerja sama

Gemar membaca, disiplin, kritis, mengahargai, dan kerja sama

Gemar Membaca, mandiri, mengahargai, kerja sama, optimis, dan semangat

Mandiri, disiplin dan jujur

Mengahargai, kritis, dan semangat

Jujur, tanggung jawan, kritis, rasa ingin tahu, disiplin, mandiri, dan optimis

Jujur, disiplin, dan kerja sama

Mandiri, kerja sama, kritis, dan disiplin jujur,  dan tanggung jawab

Tanggung jawab, jujur, kerja sama, dan mengahargai

Gemar membaca, kreatif, kritis, optimis, jujur, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab

2 Kegitan Tatap MukaPendahuluan

  1. Menginformasikan KD pembelajaran;
  2. Menjelaskan indikator/tujuan pembelajaran;

Inti

  1. Meminta peserta didik menceritakan pengalaman berlatih membaca cepat di rumah;
  1. Meminta siswa menjelaskan kendala yang mereka hadapi dalam membaca cepat;
  1. Memotivasi peserta didik bahwasanya kecepatan membaca mereka dapat selalu meningkat dengan terus berlatih;
  1. Mengelompokkan siswa secara berpasangan dengan teman sebangku;
  2. Guru menyusuh siswa latihan Sprite secara bergantian dalam kelompok;
  1. Guru membagikan lembaran teks bacaan dan menugasi siswa yang duduk pada deret kursi sebelah kanan untuk membaca dengan cepat dan paham;
  2. Siswa secara bergantian dengan teman sebangku membaca cepat teks;
  1. Guru menginformasikan jumlah kata yang ada dalam teks, lalu siswa secara bergantian menghitung waktu tempuh membaca dan membuat catatan perilaku membaca pasangannya;
  1. Siswa mengumpulkan teks bacaan;
  1. Guru membagikan soal dan menginformasikan alokasi waktu pengerjaan soal;
  1. Siswa menjawab soal;
  1. Siswa menukar lembaran jawaban dengan teman sebangku;
  1. Guru dan siswa mengoreksi jawaban;
  1. Siswa menghitung kecepatan efektif membaca pasangannya masing-masing;
  1. Guru memberi penguatan tentang manfaat dari membaca cepat dalam kehidupan sehari-hari;

Penutup

  1. Peserta didik merefleksi pembelajaran yang baru saja dilakukan, memaknai kebermanfaatan memiliki kemampuan membaca cepat untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari;
  2. Menugaskan peserta didik berlatih membaca cepat di rumah, menghitung kecepatan membacanya, menjawab pertanyaan bacaan dan menghitung keefektifan membacanya (kegiatan mandiri tidak terstruktur)

 

  

5 menit

75 menit

10 menit

 

  

 

 

Mandiri, optimis, disiplin, dan jujur

Gemar membaca, kritis, kreatif, dan mengahargai

Semangat, kreatif, disiplin, dan optimis

 

Kerja sama dan disiplin

Disiplin, optimis, kreatif, dan gemar membaca

Gemar membaca, menghargai, dan kerja sama

 

Gemar membaca, disiplin, kritis, mengahargai, dan kerja sama

Gemar Membaca, mandiri, mengahargai, kerja sama, optimis, dan semangat

Mandiri, disiplin dan jujur

Mengahargai, kritis, dan semangat

Jujur, tanggung jawan, kritis, rasa ingin tahu, disiplin, mandiri, dan optimis

Jujur, disiplin, dan kerja sama

Mandiri, kerja sama, kritis, dan disiplin jujur,  dan tanggung jawab

Tanggung jawab, jujur, kerja sama, dan mengahargai

Gemar membaca, kreatif, kritis, optimis, jujur, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab

 

I.            Alat dan Sumber Belajar

Alat                 : Laptop, LCD, Slide Power Point dan Macromedia Flash

  1. Sumber   : Buku Nurhadi “Membaca Cepat dan Efektif”

Buku Gardon Wainwright “Speed Reading Better   Recalling”

                                         Buku Soedarso “Speed Reading”

Buku Ermanto “Keterempilan Membaca Cerdas”

Teks yang diolah guru untuk pembelajaran membaca cepat

Buku Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca, Suatu Teknik Memahami Literatur yang Efisien karangan Drs. Nurhadi

Buku Quantum Learning karangan Bobbi De Potter dan Mike Hernack

I.          Penilaian

  1. Jenis penilaian : tes tertulis dan penilaian afektif dengan skala beda semantik
  2. Bentuk instrumen : pilihan ganda dan jawaban singkat

Instrumen penilaian/ teks bacaan:

  1. Tes pilihan ganda
  2. Tes Uraian
  3. Kunci jawaban
  4. Pedoman Penskoran dan Penilaian

Nilai  = KEM/kemampuan membaca cepat siswa, seperti acuan tabel berikut ini:

KEM NILAI
300 kpm – … 100
290 kpm — 299 kpm 95
280 kpm – 289 kpm 90
270 kpm – 279 kpm 85
260 kpm – 269 kpm 80
250 kpm – 259 kpm 75
240 kpm – 249 kpm 70
< 240 kpm Belum tuntas

Format Penilaian Afektif

Pelajaran Membaca Cepat

A B C D E F G
Menyenangkan Membosankan
Sulit Mudah
Bermanfaat Sia-sia
Menantang Menjemukan
Semangat Malas

I.            Tindak Lanjut

  1. Remedial
  2. Pengayaan
  1. A.    Simpulan

Rancangan pembelajaran dilengkapi beberapa unsur, diantaranya sasaran, tujuan, materi dan perangkat mengajar, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi, kerja ekstra. RPP disusun sesuai dengan kurikulum yang  mempertimbangkan  keefektifaan dan ketuntasan hasil belajar siswa.

Pembelajaran membaca cepat akan lebih bermakna kepada siswa bila berorientasi pada pendidikan karakter. Pendidikan karakter perlu diterapkan sejak dini bahkan untuk tingkat sekolah menengah pendidikan karakter itu penting untuk memberikan siswa mental yang kuat mengahadapi kemajuan teknologi. Begitu juga untuk pembelajaran membaca sangat berkaitan dengan pendidikan karakter karena dalam pendidikan karakter terdapat nilai gemar membaca yang harus dilakukan oleh siswa. Dengan demikian, RPP yang berorientasi karakter perlu disusun agar dapat dilaksanakan dalam pembelajaran membaca cepat. Salah satu unsur RPP yang sangat ditonjolkan pendidan karakternya adalah dari segi proses pembelajarannya yang ditanamkan nilai-nilai karakter. Selain itu, juga penyajian wacana yang sesuai dengan keterbacaan siswa tingkat XI yang bertemakan pendidikan karakter.

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, Keke T. 2006. Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Membaca Cepat. Jakarta: Jurnal Pendidikan Penabur – No.06/Th.V/Juni.

Brown, Douglas H. 1994. Teaching by Principles : An Interactive Approach to Language Pedagogy. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall Regents.

De Porter, B dan Hemacki, M. 2002. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.

Ermanto. 2008. Keterampilan Membaca Cerdas: Cara Melejitkan Kecepatan dan Kemampuan Membaca. Padang: UNP Press.

Harjasujana A. S.dan Mulyati. 1997. Membaca 2. Jakarta: Depdikbud.

Karim, Suryadi, dkk.(editor). Potret Profesionalisme Guru dalam Membangun Karakter Bangsa : Pengalaman Indonesia dan Malaysia. Bandung: UPI Press.

LMT Trasco. 2008. Pentingnya Membaca. Artikel. Dalam www.CeLoTEHan_Eka.123.htm. Diakses tangal 20 Februari 2009.

Mulyati, Yeti. 2003. Kecepatan Efektif Membaca:Apa dan Bagaimana? Makalah. Disajikan dalam Diklat Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra Bagi Guru-guru SLTP Se-Indonesia, Tanggal 1 s.d. 14 Oktober 2003 di PPPG Bahasa Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional Dirjen Pendidikan Dasar Dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Bahasa.

Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Rineka.

Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Malang: Setia Budi.

Soedarso. 2004. Speed Reading Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sudjana, Nana. 2010. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Wainwright, Gordon. 2007. Speed Reading Better Recalling. Jakarta: Gramedia.

Standar

2 thoughts on “PERENCANAAN PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING DENGAN SPRITE (SPEED READING TECHNIC) DALAM PENINGKATAN KECEPATAN MEMBACA BERORIENTASI KARAKTER OLEH WITRI ANNISA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s