ilmiah

Pelestarian Arsitektur Tradisional Minangkabau Melalui Modifikasi Bangunan Rumah Pribadi Bermotif Rumah Gadang di Sumatera Barat

oleh: Witri Annisa, dkk.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan keragaman seni dan budaya. Sumatera Barat merupakan salah satu daerah yang dikenal akan kekhasan seni dan budayanya, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sumatera Barat sangat dikenal dengan sebutan daerah Minangkabau atau Ranah Minang. Berbagai seni dan budaya yang menjadi ciri khas dari daerah tersebut. Seni dan budaya yang lebih dikenal adalah adat istiadat, sistem kekerabatan matrilineal (garis keturunan ibu), permainan anak nagari, bahasa daerah, rumah adat, dan sebagainya. Asas yang dianut masyarakat Minangkabau adalah asas kekeluargaan dan gotong-royong.

Namun, fenomena yang tejadi sekarang adalah mulai adanya pergeseran sosial masyarakat Minangkabau. Hal tersebut, tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pertama, kemajuan teknologi komunikasi yang membuat manusia hidup dalam kepraktisan. Manusia tidak lagi terlalu membutuhkan tenaga, sudah banyak mesin-mesin yang menggantikan tugas manusia. Akibatnya sistem kehidupan bermayarakat, rasa kekerabatan dan  asas gotong-royang mulai ditinggalkan.

Kedua, pengaruh budaya asing (westerrnisasi). Ketika kebudayaan asing mempengaruhi masyarakat Minangkabau salah satunya moderenisasi. Modernisasi telah mengubah kehidupan tradisional Minangkabau (Couto, 2002). Hal tersebut, dapat dilihat dari bangunan-bangunan yang terdapat di Sumatera Barat. Salah satu bangunan tersebut adalah Rumah Gadang. Rumah Gadang yang memiliki seni ukiran dengan motif khusus Minangkabau yang berorientasi pada alam, yang dikenal dengan falsafah “Alam Takambang Jadi Guru.” Falsafah ini sangat “unique”, sebagai panutan dan pelajaran hidup bagi manusia dan individu, dengan memetik suatu kejadian dari peristiwa dan proses alam (Nizhamul, 2008). Pembangunan bangunan tersebut tidak mencerminkan seni dan budaya Minangkabau lagi terutama dari bentuk arsitektur bangunannya (Tukijo, 2003).

Seiring dengan perkembangan zaman banyak bangunan-bangunan pribadi yang berarsitekrturan bangunan modern tanpa ada pengaruh seni budaya Minangkabau lagi. Hal tersebut, dapat terlihat banyak bangunan perumahan pribadi baik itu untuk kalangan menengah ke bawah ataupun menegah ke atas yang berarsitekturkan motif asing seperti sudah tidak ada lagi model atap bagonjong, ukiran yang motifnya dari alam.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut penulis tertarik mencari solusi upaya untuk melestarikan kembali arsitektur Minangkabau terutama Rumah Gadang pada masyarakat di Sumatera Barat. Penulis lebih menitikberatkan kepada bagian luar bangunan yaitu bagian atap, dinding dan pintu. Maka dengan ini penulis mencoba mengangkatkan judul ”Pelestarian Arsitektur Tradisional Minangkabau Melalui Modifikasi Bangunan Rumah Pribadi Bermotif Rumah Gadang di Sumatera Barat”.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut.

1.      Terjadinya pergeseran sosial masyrakat Minangkabau.

2.      Moderisasi mempengaruhi pembangunn Rumah Gadang di Minangkabau.

3.      Bangunan rumah pribadi belum bermotif arsitektur tradisional Minangkabau.

Batasan Masalah

Dari masalah yang sudah diidentifikasi di atas, penulis membatasi permasalahan yaitu ”Bangunan rumah pribadi belum bermotif arsitektur tradisional Minangkabau”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas maka rumusan masalah adalah sebagai berikut.

1.      Bagaimana modifikasi bangunan bermotif Rumah Gadang?

2.      Bagaimana upaya peningkatan sosialisasi modifikasi bangunan bermotif Rumah Gadang?

Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang:

1.      Modifikasi bangunan bermotif Rumah Gadang.

2.      Upaya peningkatan sosialisasi modifikasi bangunan bermotif Rumah Gadang.

Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan ini adalah :

1.      Sebagai sumbang wacana pemikiran bagi pemerintah dalam meningkatkan sosialisasi modifikasi bangunan rumah pribadi bermotif  Rumah Gadang sebagi upaya pelestarian arsitektur tradisional Minangkabau di Sumatera Barat.

2.      Sebagai sumbangan wacana pemikiran bagi pihak yang terkait tentang modifikasi bangunan rumah pribadi bermotif Rumah Gadang sebagai upaya pelestarian arsitektur tradisional Minagkabau di Sumatera Barat.

3.      Sebagai sumbangan wacana pemikiran bagi masyarakat dalam melestarikan arsitektur tradisonal Minangkabau di Sumatera Barat.

TELAAH PUSTAKA

Arsitektur Tradisional Minangkabau

Arsitektur tradisional merupakan bentuk hasil rekaman akumulasi pencatatan yang mempunyai ciri kelestarian dari suatu kelompok etnik di daerah tertentu. Secara umum arsitektur Minangkabau dibagi atas empat macam yaitu: Rumah Gadang, balai adat, mesjid, dan rangkiang.  (ITB, 1979).

Sebagai suku bangsa yang menganut falsafah alam, garis dan bentuk arsitektur Minangkabau kelihatan sangat serasi dengan bentuk alam Bukit Barisan yang bagian puncaknya bergaris lengkung yang meninggi pada bagian tengahnya serta lerengnya melengkung dan mengembang ke bawah dengan bentuk segitiga. Tetapi, jika dilihat secara keseluruhan, arsitektur Minangkabau dibangun menurut syarat-syarat estetika dan fungsi yang sesuai dengan nilai-nilai kesatuan dan keselarasan, keseimbangan dalam keutuhan yang padu (Naviz, 1984).

Setiap Arsitektur Minangkabau memiliki karakter tersendiri sesuai jenis sukunya. Dua suku terbesar di Sumatera Barat yaitu Koto Piliang dan Bodi Chaniago. Sama halnya dengan bentuk balai adat tidak berbeda arsitekturnya dengan Rumah Gadang. Di mana bentuknya sama-sama bagonjong. Secara umum mesjid-mesjid dari suku Koto Piliang memiliki ciri khas atap yang berkubah disamping gonjong-gonjongnya. Sedangkan mesjid dari suku Bodi Chaniago terlihat gaya atapnya yang bersusun-susun (ITB, 1979).

Rumah Gadang

Rumah Gadang di Minangkabau melambangkan hidup bersama, tujuan bersama, dan cara bersama, dan lambang kebudayaan yang harus dibanggakan dan dipelihara baik-baik. Di dalam Rumah Gadang tersebut terkandung nilai-nilai berharga yang mencerminkan pandangan hidup masyarakatnya dan mencerminkan kerukunan dengan dijalin oleh raso, pareso, malu, sopan, sesamanya. Rumah Gadang adalah tempat pertama dalam pembinaan pribadi seseorang untuk dapat menghayati budi pekerti yang luhur dan tinggi. Setiap bentuk dan bangunan dari unsur-unsur yang berbagai nama itu, mempunyai ciri-ciri khas yang mempunyai arti yang mencakup setiap aspek kehidupan lahir batin (Hakmi, 2004).

Jenis Rumah Gadang

Rumah Gadang mempunyai nama yang beraneka ragam sesuai dengan bentuk, ukuran dan suku dan gaya luhak (Naviz, 1984). Hal tersebut, terjadi karena dipengruhi oleh penciptaan dan bentuk sebuah bangunan yaitu faktor alam, sumber daya alam, sumber daya manusia dan adat istiadat setempat (Mutia, 2001). Rumah Gadang yang memiliki lanjar dua dan atapnya bergonjong dua disebut lipek pandang, berlanjar tiga dan gonjong empat disebut balah bubuang (balah bubung), dan yang atapnya bergonjong empat berlanjar enam disebut gajah maharam (ITB, 1979).

Gambar 1. Rumah Gadang Suku Koto Piliang Gajah Maharam

Gambar 2. Rumah Gadang Suku Bodi Chaniago Rajo Babandiang (ITB, 1979)

Ragam Hias Rumah Gadang

Ragam hias Minangkabau banyak terdapat pada ukiran Rumah Gadang, baik pada bagian-bagian bangunan maupun perabotanya. Berawal dari falasafah minangkabau yaitu ”Alam Takambang Jadi Guru” maka ragam hias Minangkabau berorientasi pada alam. Ragam hias tersebut digolongkan menjadi tiga bagian yaitu yang berasal dari nama tumbuhan, yang berasal dari nama hewan dan yang berasal dari nama benda lainya (Navis, 1984).

Walaupun tempat ukiran pada sebuah Rumah Gadang tidak mutlak ada satu jenis ukiran, namun hal ini diatur dan berpedoman juga pada ukuran jangko dalam adat. ”Patut senteang tidak boleh dalam, patut dalam boleh senteang, dalam alua  jo patut, malabihi ancak-ancak, mangurangi sio-sio, talampau aru bapantiangan, kurang aru cirik kambiangan, condong mato ka nan elok, condong salero ka nan lamak”. Artinya ”patut sedikit tidak boleh dalam, patut dalam tidak boleh sedikit, dalam alur dengan patut, melebihi yang bagus-bagus, mengurangi yang sia-sia, terlalu  aru berkepentingan, kurang aru kotoran kambing, keinginan mata ke yang bagus, keinginan selera ke yang enak.”

Berdasarkan unsur-unsur estetik Minangkabau itu dikenal bentuk seni ukir tradisional Minangkabau dalam tiga pola yang diambil dari alam sabagai berikut. Pertama,  pola tepi atau ukuran pinggir dari satu atau dua unsur seperti motif itiak pulang patang, bada mudiak, dan ula gerang. Fungsi dan ruang letak motif tersebut adalah sebagai motif pinggir dan mendampingi motif besar.

Gambar 3. Motif ukiran pola tepi yang fungsi dan letaknya di pinggir   sebagai pendamping motif besar.

Kedua, pola induk ukiran tradisional Minangkabau terdiri dari beberapa unsur seperti gagang, daun, buah, sapiah (pecah dari motif asal) serta sistem penyusunan meligkar dan jajaran menunjang seperti motif saluak laka, si kambang maniah atau lumuik hanyuik. Pola induk ini letaknya di dinding Rumah Gadang. Seperti pada gambar  4.

Gambar 4. motif pola induk yang ukiran ini letaknya di dinding Rumah Gadang

Ketiga, pola tunggal (Enclosed Space) motif tunggal yang berdiri sendiri dan berfungsi menghias bidang seperti motif daun bodi, bungo pitulo, kipeh cino, siriah gadang dan lain-lain sesuai dengan konsep raso jo pareso, alua jo patuik penempatan motif ukiran disusun menurut perlambangan yang dikandungannya.

Dalam konsep estetik Minangkabau dapat dilihat norma atau kriteria yang dapat memilihara nilai estetik tradisioanal karena motif ukiran tradisional berakar dari falsafah hidup masyarakat Minangkabau dan merupakan lambang serta implementasi dari adat.

Banguan Rumah Pribadi

Kebutuhan akan rumah pribadi merupakan salah satu motivasi untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik. Rumah bukan sekedar sebagi tempat berlindung dari panas dan hujan melainkan rumah dapat memberikan ketenangan, kesenangan bahkan kenangan akan segala peristiwa hidup.

METODE PENULISAN

Metoda Penulisan

Metode yang digunakan dalam pembuatan karya tulis ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif merupakan suatu metode yang digunakan untuk membuat gambaran secara sistematis mengenai hubungan fenomena yang diselidiki dan hasilnya tidak dinyatakan dalam angka. Metode ini digunakan karena dapat membantu tujuan yang ingin dicapai yaitu menjelaskan tentang modifikasi bangunan rumah pribadi bermotif Rumah Gadang sebagai upaya pelestarian arsitektur tradisional Minangkabau di Sumatera Barat.

Teknik Penulisan

Data penulisan ini dikumpulkan dengan teknik studi pustaka (Library Research). Penulis mengkaji sejumlah referensi sejumlah buku-buku yang relevan dengan judul karya tulis ini. Maksud studi pustaka ini adalah menemukan teori yang dapat menunjang kebsahan penulisan.

Jenis dan Bentuk Data

Jenis dan bentuk data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku–buku yang berhubungan dengan judul penulisan.

Sistematika Penulisan

Pendahuluan

Pendahuluan berisi gambaran umum tentang kondisi umum tentang keadaan arsitektur tradisional Minangkabau, terutama Rumah Gadang. Tujuan penulisan ini akan memjelaskan bagaimana pelestarian arsitektur tradisional Minangkabau melalui bangunan rumah pribadi yang bermotif Rumah Gadang dan upaya sosialisasinya.

Telaah Pustaka

Kajian pustaka merupakan basis untuk dapat menganalisis masalah upaya pelestarian arsitektur tradisional Minangkabau.

Metoda Penulisan

Metodologi penulisan merupakan uraian tentang metode yang digunakan dalam menyusun karya tulis ini dan sitematika tulisan.

Analisis dan Sintesis

Pembahasan merupakan inti dari penulisan, dimana dasar teori diperoleh, dianalisis, dan dikaitkan antara satu dengan yang lainnya. Dalam pembahasan ini dijelaskan upaya pelestarian arsitektur tradisional Minangkabau.

Penutup

Penutup merupaan bab yang memuat kesimpulan dan saran dari isi penulisan.

ANALISIS DAN SINTESIS

Bangunan Rumah Pribadi Bermotif Rumah Gadang

Pembangunan rumah pribadi harus sesuai dengan kebutuhan dan adat kebiasaan masing-masing pemilik rumah. Di pihak lain perencanaan rumah pribadi tidak terlepas dari situasi dan kondisi lingkungan setempat yang memiliki syarat dan peraturan tertentu dan berlaku di daerah tersebut (Surowiyono, 1996). Hal ini, juga sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2002 Pasal 14 ayat 1,  tentang bangunan gedung yang berbunyi ”Persyaratan arsitektur bangunan gedung sebagai mana yang dimaksudkan dalam pasal 9 ayat 1 meliputi persyaratan penampilan bangunan gedung, tata ruang dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan  bangunan gedung dengan lingkungannya serta pertimbangan adanya keseimbangan antara nilai-nilai sosial budaya setempat terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa.”

Bardasarkan Undang-undang tersebut, sudah jelas bahwa dalam mendirikan bangunan gedung atau rumah harus memenuhi persyaratan tertentu dan mempertimbangkan keseimbangan niali-nilai budaya setempat. Dalam hal ini budaya yang dimaksud adalah budaya Minangkabau. Budaya Minangkabau lebih ditekankan pada arsitektur tradisional Minangkabau, salah satunya Rumah Gadang.

Berdasarkan bentuk-bentuk bangunan rumah pribadi, lebih difokuskan pada Rumah Gandang untuk dimodifikasi. Elemen-elemen rumah yang akan dimodifikasi dititikberatkan pada atap, dinding dan pintunya  Hal itu, disebabkan Rumah Gandang merupakan rumah yang dihuni oleh masyarakat tingkat atas dan nantinya dapat dihuni oleh masyarakat tingkat bawah. Oleh karena itu, dalam memodifikasi bangunan rumah pribadi yang bermotif Rumah Gadang dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya sebagai berikut.

Modifikasi Bentuk Atap Rumah Pribadi dengan Mengambil Corak Minang yaitu Menggunakan Gonjong

Atap merupakan elemen yang sangat penting dalam sebuah rumah dan mempunyai fungsi yang ganda. Selain sebagai pelindung dari hujan dan panas, juga atap merupakan ciri khas dari rumah tersebut (seperti halnya Rumah Gadang dicirikan dengan rumah bagonjong). Bentuk atap ditentukan oleh rangka dari atap tersebut yang dikenal dengan reng.

Perencanaan reng pada atap umumnya ditentukan oleh kontraktor dan pemilik rumah yang disesuaikan dengan model yang berkembang pada sekarang ini. Selain itu, untuk model atap pemilik rumah juga mempertimbangkan dari segi biaya yang akan dikeluarkan. Dari realita yang terjadi bentuk rumah dari masayarakat minang sudah mengalami perkembangan yang sangatt pesat. Hal tersebut dapat dilihat dari model rumah pribadi yang tidak lagi mempertimbangkan nilai-nilai budaya Minangkabau.

Gambar 5. Contoh atap modifikasi

Memberikan Nuansa Ukiran Khas Rumah Gadang ke Dalam Dinding dan Pintu Rumah Gadang yang Dikenal dengan Falsafah ”Alam Takambang Jadi Guru”

Dinding merupakan pembatas rumah dengan halaman dan juga sebagai pembatas antara ruang-ruang di dalam rumah. Oleh karena itu, dinding dibuat kokoh. Sedangkan, Pintu merupakan jalan keluar masuk ruangan, sehingga bentuk pintu harus disesuaikan dengan fungsi ruang masing-masing. Pintu dapat dibagi beberapa jenis diantaranya adalah pintu utama, pintu ruang-ruang utama dan pintu kamar mandi/WC. Pada saat sekarang ini umumnya pintu terbuat dari bahan yang tembus pandang, seperti kaca. Hal ini disebabkan oleh pertimbangan pintu dapat meneruskan sinar ke dalam ruangan.

Gambar 6. Contoh ukiran modifikasi pintu dan dinding

Upaya Sosialisasi Bangunan Bermotif Rumah Gadang

Setiap program kegiatan yang akan dilaksanakan perlu dilakukan sosialisasi. Selama ini sosialisasi yang dilakukan pemerintah tentang bangunan yang bermotif Rumah Gadang telah terlaksana, terutama pada bangunan-bangunan instansi pemerintahan dan perkantoran. Namun sosialisasi ini belum maksimal karena masih adanya instansi pemerintahan yang belum merealisasikannya.

Sosialisasi di sini lebih difokuskan pada bangunan rumah pribadi yang bermotif rumah gadang. Bentuk sosialisasi yang dilakukan dapat berupa kerjasama pemerintah dengan lembaga rekonstruksi bangunan, pengrajin ukiran, tokoh-tokoh masyarakat (kepala daerah, ninik mamak, cadiak pandai, dan sebagainya), dan media informasi. Sosialisasi tersebut dapat berupa pameran dan promosi. Promosi dan pameran di sini memaparkan bentuk-bentuk modifikasi bangunan rumah pribadi yang modern bermotif Rumah Gadang. Dengan adanya pameran, masyarakat dapat melihat langsung bagaimana bentuk modifikasi rumah pribadi tersebut. Sehingga timbul rasa ketertarikan untuk merealisasikannya pada rumah mereka. Melalui media informasi pemerintah dapat melakukan promosi dengan membuat baliho dan iklan-iklan di media cetak dan elektronik yang bertemakan pelestarian arsitektur Rumah Gadang.

Bentuk kerja sama dengan tokoh masyarakat adalah berupa seminar tentang pengenalan dan pemaparan secara mendetail bagaimana bentuk-bentuk modifikasi  rumah pribadi bermotif Rumah Gadang. Hal tersebut bertujuan agar tokoh masyarakat mengetahui bagaimana bangunan rumah pribadi bermotif rumah gadang tersebut dan melanjutkan program pemerintah yang sudah ada tetapi lebih difokuskan kepada rumah pribadi. Tokoh masyarakat ini merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah dalam upaya sosialisasi.

Sosialisasi modifikasi bangunan rumah pribadi bermotif rumah gadang memerlukan usaha sadar seluruh elemen pemerintah, lembaga rekonstruksi bangunan, tokoh masyarakat, pengarajin ukiran, media informasi, dan masyarakat. Sebagai upaya pelestarian arsitektur tradisional Minangkabau, sehingga program ini dapat terlaksana sesuai yang diharapkan bersama.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan dari analisis dan sintesis dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut:

1.      Dalam upaya pelestarian arsitektur tradisional Minangkabau dapat dilakukan melalui modifikasi bangunan rumah pribadi bermotif rumah gadang. Modifikasi ini dititkberatkan kepada bentuk rumah gandeng. Elemen-elemen yang akan dimodifikasi adalah bagian atap, dinding dan pintu.

2.      Untuk mensosialisasikan modifikasi rumah pribadi yang bermotif rumah gadang sebagai upaya pelestaraian arsitektur tradisional minangkabau dapat dilakukan dengan kerjasama antara pemerintah dengan lembanga konstruksi bangunan, pengrajin ukiran, media informasi, tokoh-tokoh masyarakat, dan masyarakat di Minangkabau. Kerja sama tersebut berupa promosi dan pameran, seminar, dan dikomunikan secara lansung kepada masyarakat.

Saran

Untuk melestarikan arsitektur tradisional Minangkabau, maka semua ini tidak terlepas dari kemauan dan kerjasama dari semua pihak. Untuk itu diharapkan kepada:

1.    bekerja keras dan merangkul berbagai pihak terkait untuk bekerjasama dalam sosialisasi modifikasi rumah pribadi bermotif rumah gadang sebagai upaya pelestarian arsitektur tradisional Minangkabau.

2.    Lembaga rekonstruksi bangunan, pengrajin ukiran, tokoh-tokoh masyarakat bekerja sama dalam upaya pelestarian arsitektur tradisional Minangkabau melalui modifikasi bangunan rumah pribadi bermotif rumah gadang.

3.    Masyarakat agar dapat secara sadar ikut andil dalam usaha pelestarian arsitektur tradisional Minangkabau melalui modifikasi bangunan rumah pribadi bermotif rumah gadang dan merealisasikannya.

DAFTAR PUSTAKA

A.A. Navis. 1984. Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Graviti Press.

Hakimi, Idrus Dt. Rajo Penghulu. 2004. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Rosdakarya

Institut Teknologi Bandung/ 1979. Arsitektur Tradisional Minangkabau: Laporan Kuliah Lapangan-1 Sumatera Barat. Bandung: Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung.

Mutia, Riza, dkk. 2001. Rumah Gadang di Pesisir Sumatera Barat. Sumatera Barat: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Sumatera Barat.

Sunawiyono, Tutu TW. 1996. Dasar Perencanaan Rumah Tinggal. Jakarta: Pustaka Sinar Haragan.

Tukijo, Made Beery Sutan Malinkayo. 2003. Album Minangkabau. Switzerland: Bernhard Beery Batschelet Missiontrasse 7 CH-4055 Basel.

Standar

One thought on “Pelestarian Arsitektur Tradisional Minangkabau Melalui Modifikasi Bangunan Rumah Pribadi Bermotif Rumah Gadang di Sumatera Barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s