ilmiah

Upaya Pencegahan Kepunahan Bahasa Melayu di Indonesia

oleh: Witri Annisa

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Balakang

Bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa nusantara yang telah menjadi bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia. Bahasa Melayu sangat berperan penting dalam perkembangan bahasa Indonesia. Pada abad ke-16 bahasa Melayu merupakan bahasa yang mudah diterima dalam masyarakat sehingga dapat berkembang pesat dan mampu bersaing dengan bahasa lainya seperti bahasa Inggris atau disebut juga dengan bahasa perdagangan (lingua franca). Penyebaran bahasa Melayu semakin meluas dan bahasa Melayu adalah bahasa yang sangat unggul dalam bidang ilmu pengetahuan, perdagangan, diplomasi, dan agama (Collins. 2005).

Seiring perkembangan zaman, pemakaian bahasa Melayu sudah mulai berangsur-angsur ditinggalkan oleh penuturnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) lebih mendekatkan masyarakat pada bahasa asing seperti bahasa Inggris. Hal itu, terlihat pada teknologi yang sangat dekat dengan masyarakat sekarang seperti komputer. Cara mengoperasikan komputer menggunakan bahasa Inggris tidak bahasa Melayu sehingga masyarakat penutur bahasa tersebut lebih fasih menggunakan bahasa asing daripada bahasa Melayu.

Dieraglobalisasi ini, bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar dalam berkomunikasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa Inggris sangat penting dikuasai oleh setiap orang, tetapi jangan sampai dengan mampu menguasai bahasa Inggris dan melupakan bahasa Melayu.

Bahasa Melayu telah menjadi salah satu kebudayaan Indonesia yang perlu dilestarikan karena seperti pepatah mengatakan bahwa “bahasa menunjukkan bangsa”. Oleh karena itu, kebanggaan akan budaya sendiri perlu dipupuk sejak dini untuk mencegah kepunahan bahasa Melayu tersebut.

Berdasarkan fenomena tersebut, penulis merasa tertarik mencari solusi upaya untuk mecegah kepunahan bahasa Melayu di Indonesia.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:

1.      Dieraglobalisai bahasa Melayu sudah mulai dilupakan oleh masyarakat penutur bahasa tersebut salah satunya masyarakat Indonesia.

2.      Bahasa Melayu sudah mulai ditinggalkan oleh penuturnya karena kemajuan IPTEK.

3.      Masyarakat Indonesia fasih berbahasa Inggris tetapi melupakan bahasa budaya sendiri yaitu bahasa Melayu.

C. Batasan Masalah

Dari masalah yang sudah diidentifikasi di atas, penulis membatasi permasalahan pada poin ketiga yaitu  “masyarakat Indonesia fasih berbahasa Inggris tetapi melupakan bahasa budaya sendiri yaitu bahasa Melayu”.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, rumusan masalah adalah sebagai berikut:

1.   Bagaimana peranan bahasa Melayu dieraglobalisasi?

2.   Kendala apa saja yang dihadapi dalam melestasikan bahasa Melayu di Indonesia?

3.   Upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah kepunahan bahasa Melayu di Indonesia?

E. Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang:

1.       Peranan bahasa Melayu dieraglobalisai.

2.      Kendala yang dihadapi dalam melestarikan bahasa Melayu di Indonesia.

3.      Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kepunahan bahasa Melayu di Indonesia.

F. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan ini adalah:

1.      Sebagai bahan informasi dan menambah pengetahuan pembaca tentang peranan bahasa melayu dieraglobalisasi dan upaya pencegahan kepunahan bahasa melayu di Indonesia.

2.      Sebagai masukan bagi pemerintah dan masyarakat dalam upaya pencegahan kepunahan bahasa melayu di Indonesia.

3.      Sebagai masukan bagi penelitian lebih lanjut.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Sejarah Perkembangan Bahasa Melayu

Bahasa Melayu merupakan rumpun dari bahasa Melayu Polinesia di bawah rumpun Austronesia. Bahasa Melayu merupakan bahasa keempat terbesar yang digunakan di dunia. Menurut statistik penggunaan bahasa di dunia penguna bahasa Melayu diperkirakan berjumlah lebih kurang 250 juta jiwa yang merupakan bahasa keempat dalam urutan jumlah penutur terpenting bagi bahasa-bahasa di dunia.

Bukti bertulis yang tertua tentang bahasa Melayu Kuno ini terdapat di beberapa buah prasasti. Diantaranya sebagai berikut.

  1. Prasasti Kedukan Bukit (Palembang), bertarikh 605 Tahun Saka, bersamaan dengan 683 M (Masehi). Tulisan yang terdapat pada Batu Bersurat ini menggunakan aksara Palawa.
  2. Prasasti Talang Tuwo (Palembang), bertarikh 606 Tahun Saka, bersamaan dengan 684 M. Batu Bersurat ini ditemukan oleh Residen Westenenk, 17 November 1920 di sebuah kawasan bernama Talang Tuwo, di belahan barat daya Bukit Siguntang, yaitu lebih kurang 8 km dari kota Palembang.

3.      Prasasti Kota Kapur (Bangka), bertarikh 608 Tahun Saka, bersamaan dengan 686 M.

4.      Prasasti Karang Brahi (Jambi), bertarikh 614 Tahun Saka, bersamaan dengan 692 M. (http:/upload.wikipidia.org/)

Pada awal abad ke-17, bahasa Melayu mendominasi arena budaya hampir disemua daerah di Asia Tenggara. Bahasa Melayu menjadi pusat yang berjumlah banyak dan tersebar, bersemangat Islami dengan menuskrip bertulisankan Jawi (Collins:2005).

Ahli bahasa membagi perkembangan bahasa Melayu ke tiga tahap utama yaitu:

a.       Bahasa Melayu Kuno

b.      Bahasa Melayu Klasik, ditulis dengan huruf Jawi

c.       Bahasa Melayu Modern

d.      Bahasa Indonesia

Sejarah telah membuktikan Bahasa Melayu telah menjadi bahasa lingua franca (bahasa perantaraan) bagi daerah-daerah kepulauan Melayu sejak zaman-kezaman. Bahasa Melayu telah digunakan sebagai bahasa perhubungan antara orang-orang yang tinggal di kepulauan Melayu dan orang-orang mendatang seperti pedagang-pedagang dan pengembara-pengembara dari Eropah, Asia Tengah, Cina dan India.

Pada awalnya proses evolusi Bahasa Melayu berkembang dan maju seiring dengan taraf perkembangan dan kemajuan yang dicapai oleh masyarakat bahasanya melalui peperangan, perkawinan, perdagangan, persuratan, keilmuan dan kebudayaan. Sejarah juga telah menunjukkan bahawa bahasa Melayu telah berkembang dari status bahasa Melayu Purba menjadi bahasa Melayu Kuno dan seterusnya ke bahasa Melayu Moden setelah melalui beberapa penyerapan dan penyebatian daripada bahasa-bahasa Sanskrit, Arab, Cina, Belanda, Portugis dan Inggeris. Dalam perkembangan era globalisasi dunia hari ini yang telah dipercepatkan oleh perkembangan tekonologi dan komunikasi (ICT), meneruskan proses evolusi bahasa Melayu ke peringkat maya yang akan memberi gambaran-gambaran baru kepada masyarakat bahasanya termasuk di negara ini untuk bersaing dengan bahasa-bahasa utama dunia yang lain (Mohamed.2001).

B. Bahasa Melayu di Era Globalisasi

Dari zaman kezaman peradaban manusia berubah. Peradaban Melayu ternyata memiliki keunikan dan kekuatan tersendiri zaman kezaman. Perubahan peradaban pada abad ke-21 dengan adanya kemajuan Asia Pasifik, kestabilan politik dan kemajuan ekonomi dan dinamisme baru rumpun Melayu sepatutnya membangkitkan kesedaran politik ke arah memajukan bahasa Melayu antara bangsa sesuai dengan kemajuan teknologi komunikasi.

Perkembangan dan kemajuan bahasa Melayu mencapai taraf salah satu bahasa moden seharusnya tidak menimbulkan rasa pesimistis bagi bahasa Melayu dikukuhkan sebagai salah satu bahasa utama dunia. Kekuatan jumlah 300 juta umat Melayu-Polinesia, kejayaannya menjadi bahasa ilmu, bahasa sistem pendidikan nasional, bahasa komunikasi, wujudnya kerjasama dan pengembangan yang utuh telah menjadikan bahasa Melayu diminati di dunia belahan  Barat dan Timur.

Bahasa Melayu kian lama mendapat tempat dalam program pembelajaran, penelitian dan pengajian di Eropa, Amerika, Asia dan Oceania, tetapi kenyataannya tidak ada dukungan dan kerjasama yang kuat. Kesepakatan akan kesedaran dan tanggungjawab perlu diberi landasan yang kuat dalam konteks “renaissance” kesusasteraan Melayu. Jaringan kesepakatan dalam penciptaan sastera, penulisan, penerjemahan, sinonim, penamaan institusi, peranan prasarana dan organisasi (Deraman. 2006).

BAB III

PEMBAHASAN

A. Peranan Bahasa Melayu Diera Globalisasi

Perubahan abad dan perubahan milenium juga akan merubah tatanan ekonomi, kekuasaan dan kebudayaan. Kebudayaan tersebut salah satunya adalah bahasa. Di Indonesia bahasa Melayu merupakan bahasa kebudayaan yang harus tetap dilestarikan agar tidak punah. Dari berabad-abad lamanya bahasa Malayu berkembang. Peran penting bahasa Melayu sangat dirasakan di Indonesia dari mulai adanya bahasa Melayu sampai bisa berkembang keseluruh dunia. Peranan bahasa Melayu ditengah era globalisasi seperti saat sekarang ini diantaranya:

1.      Bahasa melayu sebagai identitas bangsa

Arus globalisasi sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa  Melayu di Indonesia. Ketakutan akan arus tersebut harus disikapi dengan antisipasi yang arif dan cermat agar segala pengaruh yang dibawa oleh arus globalisasi ini dapat difilter dengan baik sehingga tidak memudarkan identitas bangsa.

Bahasa melayu yang berkembang sebagai bahasa perantara (lingua franca). Di dalam sejarahnya, Bahasa Indonesia yang tadinya hanya merupakan bahasa Melayu dengan pendukung yang kecil telah berkembang menjadi bahasa Indonesia yang besar. Bahasa ini telah menjadi bahasa lebih dari 200 juta rakyat di nusantara Indonesia. Sebagian besar di antaranya juga telah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama. Bahasa Indonesia yang tadinya berkembang dari bahasa Melayu itu telah “menggusur” sejumlah bahasa lokal (etnis) yang kecil. Bahasa Indonesia yang semulanya berasal dari bahasa Melayu itu bahkan juga menggeser dan menggoyahkan bahasa etnis-etnis yang cukup besar, seperti bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Perkembangan bahasa Melayu di Indonesia sangat pesat sehingga membawa pengaruh besar tehadap bahasa persatuan indonesia menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa yang menunjukkan identitas bangsa Indonesia.

2.      Bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan

Bahasa Melayu adalah bahasa kebangsaan beberapa negara di Asia Tenggara diantara Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darusalam. Sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, “jang dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari ‘Melajoe Riaoe’, akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; …”(http:/upload.wikipidia.org/).

3.      Bahasa Melayu sebagai alat komunikasi

Proses komunikasi hanya dapat dilakukan melalui medium bahasa maka salah satu medium itu adalah bahasa Melayu. Bahasa melayu digunakan sebagai alat komunikasi untuk memperlancar segala urusan. Separti dalam perdagangan, di pelabuhan-pelabuhan para pedagang dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu.

4.      Bahasa Melayu sebagai pengatur jalanya politik

Perkembangan bahasa Melayu berpengaruh terhadap situasi politik pemerintahan. Bahasa Melayu sering di jadikan alat untuk mencapai kekuasaan oleh pihah-pihak tertentu. Karena seiring kemajuan teknologi bahasa Melayu dijadikan senjata untuk menarik perhatian masyarakat.

B. Kendala yang Dihadapi Dalam Melestarikan Bahasa Melayu di Indonesia

1.      Lebih populernya bahasa asing dari pada bahasa Melayu

Data Pusat Bahasa menunjukkan, dari 220 juta jiwa penduduk ini Indonesia saat ini, sekitar 14,8 persen atau sekitar 25.775 juta jiwa  merupakan kelompok masyarakat berbahasa ibu, bahasa Indonesia. Sedangkan pemakai bahasa Indonesia adalah sekitar 18,7 persen atau sebanyak 3,6 juta jiwa. Sisanya merupakan penduduk berbahasa daerah dan asing (Kompas, sabtu 17 November 2007).

Dari data di atas menunjukan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu tergolong kecil padahal bahasa Indonesia dan bahasa Melayu adalah bahasa nasional dan bahasa kebangsaan yang harus dilestarikan oleh masyarakat Indonesia sendiri.

2.      Undang-undang Bahasa sebagai komitmen pemerintah belum kuat

Undang-undang bahasa sebagai komitmen pemerintah untuk melestarikan bahasa Indonesia dan daerah (bahasa melayu) belum kuat sehingga serbuan bahasa asing ke Indonesia semakain memudarkan jati diri bangsa. Seperti halnya palang-palang toko-toko lebih sering menggunakan nama-nama asing dari pada nama-nama Indonesia. Pemerintah seharusnya memberi peringatan kepada pelaku perusak bahasa tersebut, tetapi pada kenyataannya pemerintah diam saja.

3.      Kurangnya partisipasi media massa dalam melestarikan bahasa Melayu

Media massa merupakan sarana penyampai informasi paling cepat, tetapi partisipasinya dalam melestrikan bahasa Melayu belum terlihat. Media elektronik seperti televisi sudah mulai menayangkan beberapa tanyangan yang berbau kedaerahan, tetapi belum membawa pengaruh besar terhadap kemajuan bahasa daerah (Melayu).

4.      Mata pelajaran bahasa daerah (Melayu) kurang di minati oleh siswa di sekolah

Kurang di minatinya pelajaran bahasa daerah (Melayu) di sekolah disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor guru yang tidak menguasai materi, faktor siswa yang tidak tidak menyukai pelajaran bahasa daerah, faktor metode yang dilaksanakan guru saat Proses Belajar Mengajar (PBM) membuat siswa bosan karena tidak menarik dan kurang kreatif, faktor media yang digunakan guru dalam PBM tidak menarik bagi siswa.

5.      Minimnya acara-acara yang mengangkat tema tentang bahasa melayu

Penyelenggaraan acara tentang bahasa  sangat jarang diselenggarakan apalagi acara tentang bahasa daerah (Melayu), kalaupun ada acara-acara tersebut dilaksanakan sekali setahun seperti acara di bulan bahasa yaitu setiap bulan Oktober.

6.  Kurang tersedianya buku-buku tentang bahasa Melayu

Buku-buku tentang bahasa Melayu  sulit ditemukan di toko-toko buku. Padahal buku-buku tentang bahasa Melayu sangat dibutuhkan untuk menambah pengetahuan tentang perkembangan bahasa Melayu tersebut.

7. Kurang adanya apresiasi dari pemerintah kepada orang-orang yang telah berjasa memajukan bahasa Melayu.

Orang yang berjasa dalam memajukan bahasa daerah (melayu) seperti orang ahli berpantun adat pada umumnya kehidupan kesejahteraan ekonominya di bawah rata-rata padahal jasanya dalam melestarikan bahasa Melayu sangat besar. Hal itu, terjadi karena mereka hanya mengandalkan kemampuanya berpantun adat untuk mencari nafkah tanpa ada keterampilan lain.

  1. UU bahasa penghambat kreatifitas berbahasa.

UU bahasa dibuat selain dapat melestarikan bahasa tetapi terkadang juga dapat menghambat kreatifitas dan inovasi orang dalam berbahasa karena setiap orang bebas berkreasi dan mempunyai hak asasi dalam berbahasa. Menurut Parera, bahasa dan berbahasa merupakan suatu butir hak asasi manusia. Karena, bahasa dan kemampuan berbahasa adalah sesuatu yang terwaris dan merupakan aset yang diperoleh secara turun-temurun. Masyarakat Indonesia telah menerima bahasa Indonesia secara sukarela dan tanpa paksaan. Ia membacakan makalahnya, Mengapa kesukarelaan ini harus diusik dengan RUU bahasa dan kebahasaan? (Media Indonesia, Jumat, 2 November 2007). Untuk itu pusat bahasa sebagai lembaga yang memelopori RUU bahasa harus diperjelas fungsi dan tugasnya untuk mendokumentasi dan meneliti bahasa dan berbagai bahasa yang ada di Indonesia.

C. Upaya yang Dapat Dilakukan Untuk Mencegah Kepunahan Bahasa Melayu Di Indonesia

1.      Mengganti kata-kata asing dengan kata-kata khas Melayu

Dengan mengganti kata-kata asing dengan kata-kata Melayu dapat meningkatkan minat wiasatawan. Kata-kata khas daerah tersebut membantu para wiasatawan dapat dengan mudah mengingatnya, karena ke unikan kata-kata dari bahasa melayu tersebut. Seperti jam gadang, tetapi diberi nama Jam Gadang bukan Hour Big.

2.      Meningkatkan partisipasi media massa dalam melestarikan bahasa Melayu

Partisipasi media masa dalam melestrikan bahasa Melayu lebih di tingkatkan lagi agar bahasa Melayu tersebut tidak punah. Hal itu dapat dilakukan dengan membuat program acara yang kreatif dan dapat mendekatkan masyarakat dengan bahasa Melayu.  Dengan demikian, kecintaan masyarakat terhadap bahasa melayu dapat ditingkatkan.

3.      Menyikapi arus globalisasi sebagai pembawa pengaruh positif

Bahasa melayu sebagai identitas bangsa yang merupakan salah satu kebudayaan Indonesia, seharusnya menjadi kebanggan seluruh rakyat Indonesia.

Naisbitt (dalam artikel Ensten). Proses globalisasi tetap menempatkan masalah lokal ataupun masalah etnis (tribe) sebagai masalah yang penting yang harus dipertimbangkan. Dalam bukunya yang juga mengatakan bahwa era yang akan datang adalah era kesenian dan era pariwisata (www.melayuonline.com).

Jadi, jika menyikapi kedatangan arus globalisasi yang penuh dengan kemajuan IPTEK itu dengan kebijaksanaan maka arus globalisasi akan membawa pengaruh positif dalam menunjukkan bahasa melayu sebagai identitas bangsa.

4.      Memperbanyak penerbitan buku-buku tentang bahasa Melayu

Pemerintah ataupun instansi yang terkait dengan pelestarian bahasa melayu diharapkan untuk dapat menerbitkan buku-buku tentang bahasa Melayu, sehingga dapat mendekatkan masyarakat dengan bahasa melayu itu sendiri. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan menerbitkan buku-buku yang berbahasa Melayu dan menerjemahkan buku-buku bahasa asing ke dalam bahasa Melayu.

5.      Membuat UU bahasa yang dapat mecegaha kepunahan bahasa daerah (Melayu)

Lembaga bahasa yang bertugas membuat UU Bahasa dapat menjalankan tugasnya dengan baik sehingga bahasa daerah tetap terjaga dan tidak punah. RUU Bahasa yang dirancang sebaiknya tidak menghambat kreativitas dan inovasi orang dalam berbahasa.

6.      Menyelenggarkan acara-acara yang dapat melestariakan  bahasa Melayu

Acara-acara itu diantaranya pentas seni berbalas pantun, lomba karya tulis yang bertemakan kebudayaan melayu, lomba nyanyi Melayu. Sebaiknya konsep acara tersebut dibuat semenarik dan sekreatif mungkin sehingga dapat menarik perhatian para pemuda Melayu karena merekalah penerus yang akan melestarikan bahasa melayu tersebut.

7.      Mengadakan kampanye berbahasa Melayu kepada anak sejak dini

Agar bahasa Melayu lebih cepat dikenal dan digunakan anak-anak dalam berkomunikasi maka kampanye berbahasa Melayu dapat dilakukan sejak dini. Dimulai dari orang tua yang memperkenalkan bahasa Melayu sejak dini pada anak-anaknya dalam komunikasi sehari-hari. Di sekolah juga diberikan materi tentang bahasa Melayu sehingga bahasa melayu dapat semakain dekat dengan anak-anak.

8.      Memperbaharui kurikulum bahasa Melayu di sekolah

Kurikulum bahasa Melayu di sekolah sebaiknya terus diperbaharui agar bahasa melayu dapat berkembang dan siswa dapat lebih tertarik untuk mempelajari bahasa mealyu lebih dalam. Selain kurikulum yang terus diperbaharui metode mengajar guru harus bervariasi agar tidak membosan kan. Guru dapat memanfaatkan kemajuan teknologi seperti internet untuk memperbaharui materi-meteri ajar tentang bahasa melayu. Tidak selamanya kemajuan teknologi dieraglobalisasi membawa pengaruh buruk terhadap perkembangan dan pelestarian bahasa melayu.

BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Dari hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.      Peranan bahasa Melayu dalam dieraglobalisasi diantaranya yaitu: bahasa Melayu sebagai identitas bangsa, bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan, bahasa melayu sebagai alat komunikasi, dan bahasa Melayu sebagai pengatur jalannya politik.

2.      Kendala yang dihadapi dalam melestarikan bahasa Melayu adalah  lebih populernya bahasa asing daripada bahasa Melayu, Undang-undang Bahasa sebagai komitmen pemerintah belum kuat, kurangnya partisipasi media masa dalam melestarikan bahasa Melayu, mata pelajaran bahasa daerah (melayu) kurang diminati oleh siswa di sekolah, minimnya acara-acara yang mengangkat tema tentang bahasa Melayu, kurang tersedianya buku-buku tentang bahasa Melayu dan kamus bahasa Melayu, kurang adanya apresiasi dari pemerintah kepada orang-orang yang telah berjasa memajukan bahasa Melayu, UU bahasa penghambat kreatifitas berbahasa.

3.      Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kepunahan bahasa Melayu di Indonesia adalah mengganti kata-kata asing dengan kata-kata khas Melayu, meningkatkan partisipasi media massa dalam melestarikan bahasa Melayu, menyikapi arus globalisasi sebagai pembawa pengaruh positif, memperbanyak penerbitan buku-buku tentang bahasa Melayu, membuat UU bahasa yang dapat mecegah kepunahan bahasa daerah (Melayu), menyelenggarkan acara-acara yang dapat melestariakan  bahasa Melayu, mengadakan kampanye berbahasa melayu kepada anak sejak dini, memperbaharui kurikulum bahasa melayu di sekolah.

B. Saran

Untuk melestarikan bahasa daerah khususnya bahasa melayu, maka semua ini tidak terlepas dari kemauan dan kesungguhan dari semua pihak untuk ikut serta dalam melestarikan bahasa melayu tersebut.  Untuk itu diharapkan kepada :

1.            Pemerintah agar dapat lebih berperan aktif dalam melestarikan bahasa melayu

2.            Masyarakat ikut serta menyukseskan pencegahan kepunahan bahasa melayu.

3.            lembaga bahasa lebih dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan baik sehingga bahasa daerah tetap terjaga dan tidak punah

DAFTAR PUSTAKA

Collins, James T. 2005. Bahasa Melayu Bahasa Dunia-Sejarah Singkat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Deraman, Dato’ Haji A. Aziz. 2006. Archive for the ‘Kongres Bahasa Dan Persuratan Melayu Ke-VII’ Category. http://www.kongresbahasa.org/ (diakses tanggal 11 Desember 2007)

Ensten, Mursal. 2007. Bahasa dan Sastra Sebagai Identiti Bangsa dalam Proses Globalisasi. http://www.melayu online.com/. (diakses tanggal 06 November 2007)

http://upload.wikipedia.org/Bahasa Melayu/. (diakses tanggal 06 Desember 2007)

Kompas. Sabtu 17 November 2007. Jakarta.

Media Indonesia. Jumat, 2 November 2007. Jakarta.

Mohamed, Nor Shah. 2001. Bah Melayu Dalam Era teknologi Maklumat. http://www. modules.php.htm/ (diakses tanggal 11 Desember 2007)

———. 2007. UU Bahasa: Bahasa Indonesia Makin Pudar. http://www.cabiklunik.com/ (diakses tanggal 11 Desember 2007)

——–. 2007. RUU Bahasa Membunuh Kreativitas. http://www.cabiklunik.com/ (diakses tanggal 11 Desember 2007)

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s