ilmiah

Penciptaan Tenaga Profesional sebagai Pembimbing Penderita Disleksia

oleh: Witri Annisa

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ilmu pengetahuan selalu mengalami perkembangan tidak terkecuali ilmu linguistik. Salah satu ilmu linguistik yang terus mengalami perkembangan dan perhatian bagi peneliti linguistik adalah ilmu linguistik klinis. Ilmu linguistik klinis sangat berguna untuk mempelajari tentang hal yang berhubungan dengan gangguan berbahasa. Salah satunya adalah gangguan berbahasa bagi anak disleksia. Dislaksia merupakan penyakit gangguan dalam berkonsentrasi untuk membaca, menulis dan memahami ujaran lisan orang lain.

Anak penderita disleksia bukanlah anak yang bodoh. Umumnya penderita Disleksia mempunyai kecerdasan yang normal bahkan ada yang IQ nya di atas rata-rata (Devaraj, 2006). Namun, masalahnya tidak pada tingkat kecerdasan saja. Penyakit disleksia ini juga merupakan penyakit bawaan sejak lahir, dimana salah satu bagian otak kirinya (hemisfir kiri) mengalami gangguan. Hemisfir kiri ini bertugas untuk masalah kebahasaan.

Jumlah penderita disleksia lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan dengan perempuan yaitu berkisar 2:1 sampai 5:1 (Sakartini, 2009). Hal tersebut terjadi karena perbedaan sifat dan karakter laki-laki dan perempuan. Sampai saat ini penulis belum menemukan angka pasti berapa jumlah penderita disleksia di Indonesia, tetapi riwayat keluarga dengan disleksia merupakan factor risiko terpenting karena 23-65% orang tua disleksia mempunyai anak disleksia juga.

Gangguan-gangguan yang dialami anak penderita Disleksia cukup fatal dalam perkembangan pemerolehan bahasa anak sehingga perlu perhatian khusus dari semua pihak baik itu keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Namun, fenomena yang terjadi sekarang belum banyak keluarga dan masyarakat yang memahami penyakit disleksia apalagi bagaimana menangani anak penderita penyakit tersebut. Selain itu, masih kurangnya tenaga pengajar di bidang linguistik klinis untuk menangani anak penderita disleksia.

Penyakit disleksia bukan tidak bisa disembuhkan, tetapi dapat dikurangi bila sejak dini ditangani dengan metode dan teknik yang tepat. Penanganan masih bersifat reaktif karena didasarkan pada kasus dan kebutuhan masyarakat yang mendesak. Belum ada satu pun prosedur standar yang diadopsi untuk menangani penderita disleksia. Tenaga-tenaga yang menangani penderita dislekasia belum memiliki bekal pemahaman yang cukup untuk menjalankan prosedur penanganan disleksia secara ideal. Dengan demikian, hal ini merupakan permasalahan yang perlu dicarikan solusinya.

Penanganan disleksia secara linguistik klinis akan memberikan pemahaman baru bagi para pengajar di lembaga pendidikan khusus disleksia tentang bagaimana seharusnya anak-anak disleksia ditangani secara ideal berdasarkan prosedur penanganan yang ilmiah, yaitu sebuah prosedur yang didasarkan pada model linguistik klinis.

Berdasarkan fenomena tersebut penulis tertarik mencari solusi untuk upaya menciptakan tenaga pengajar yang dapat membimbing penderita disleksia dengan terampil dan profesional.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut.

1.    Kurangya pengetahuan masyarakat tentang penyakit disleksia.

2.    Tenaga-tenaga yang menangani penderita dislekasia belum memiliki bekal pemahaman yang cukup untuk menjalankan prosedur penanganan disleksia secara linguistik klinis.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, penulis memfokuskan Tenaga-tenaga yang menangani penderita dislekasia belum memiliki bekal pemahaman yang cukup untuk menjalankan prosedur penanganan disleksia secara linguistik klinis. Dengan demikian, rumusan masalahnya adalah bagaimana upaya menciptakan tenaga pengajar yang dapat membimbing penderita disleksia dengan terampil dan profesional?

D. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut tujuan penulisan makalah ini adalah mendeskripsikan upaya menciptakan tenaga pengajar yang dapat membimbing penderita disleksia dengan terampil dan profesional.

E. Manfaat Penulisan

1.    Sebagai bahan informasi dan menambah pengetahuan pembaca tentang penyakit disleksia.

2.    Sebagai masukan bagi pemerintah dan masyarakat dalam upaya penciptaan ahli linguistik klinis untuk membimbing penderita disleksia.

3.    Sebagai masukan bagi penelitian lebih lanjut.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Disleksia

Disleksia merupakan penyakit yang berhubungan dengan gangguan kebahasaan. Gangguan kebahasaan yang sering terjadi pada penderita disleksia dapat berbentuk masalah fonologi, masalah mengingat perkataan, masalah mengingat urutan peristiwa, masalah ingatan jangka pendek, masalah sintaksis (Devaraj, 2006).

Masalah yang dihadapi penderita disleksia dalam berbahasa tersebut  dapat dicirikan sebagai berikut.

1.      Kesulitan mengasosiasikan (menghubungkan arti) suatu huruf dengan bunyinya

2.      Terbalik dengan huruf (dia jadi bia) atau kata (tik jadi kit)

3.      Kesulitan membaca kata tunggal

4.      Kesulitan mengeja kata tunggal

5.      Kesulitan mencatat huruf/kata dari papan tulis atau buku

6.      Kesulitan mengerti apa yang mereka dengar (auditory)

7.      Kesulitan mengatur tugas, material, dan waktu

8.      Kesulitan mengingat isi materi baru dan materi sejenisnya

9.      Kesulitan dengan tugas menulis

10.  Kesulitan pada kemampuan motorik halus (misalnya memegang alat tulis, mengancing baju)

11.  Tidak terkoordinasi

12.  Masalah perilaku dan/atau tidak suka membaca.

(Rustina, 2009)

Penyebab disleksia terjadi karena beberapa hal diantaranya sebagai berikut.

1.         Genetik/keturunan. Disleksia cenderung terdapat pada keluarga yang mempunyai anggota kidal. Namun, orang tua yang disleksia tidak secara otomatis menurunkan gangguan ini pada anak-anaknya, atau anak kidal pasti disleksia.

2.         Memiliki masalah pendengaran sejak usia dini. Jika kesulitan  tidak terdeteksi sejak dini maka otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi atau suara yang didengarnya dengan huruf atau kata yang dilihatnya.

3.         Terjadi cedera pada kepala atau trauma. Khususnya benturan kepala mengenai otak kiri.

(http://www.conectique.com/)

B. Metode dan Teknik Pengajaran untuk Penderita Disleksia

Penyakit disleksia sulit untuk disembuhkan, tetapi dapat dikurangi gangguanya. Metode atau teknik yang dapat dilakukan untuk mengurangi gangguan tersebut menurut para ahli diantaranya sebagai berikut.

Menurut Baumer (1996) ada beberapa langkah untuk mengajarkan penderita Disleksia untuk meningkatkan pemahaman terhadap suatu bacaan. Pertama, memilih cerita yang menarik pada level dimana 98% penderita bisa memahami kata-kata dalam cerita tersebut. Mintalah penderita untuk membacakan secara keras dan mengatakan apa yang telah dibaca. Kedua, jika penderita tidak bisa melakukan ini, mintalah untuk membaca tanpa bersuara, berhenti setiap paragraf dan menceritakan apa yang telah ia baca. Ketiga, ketika pemahamannya berkembang, tambahkan jumlah paragraf  yang dibaca sampai penderita mampu membaca dan paham keseluruhan halaman. Keempat, untuk membantu pemahamannya,dapat diberikan arahan: menurutmu apa yang dirasakan si tokoh? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana akhir ceritanya?

Teknik di atas dapat dilakukan oleh orang tua penderita ataupun guru penderita, tetapi dengan syarat orang yang akan mengajarkan penderita disleksia ini bebenar-benar mengetahui sejauh mana kemampuan penderita. Selanjutnya, Wakil Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia Vitriani Sumiartis juga memberikan metode pengajaran yang dapat diterapkan untuk penderita disleksia.  Metode tersebut adalah sebagai berikut.

1.    Metode Multisensori mendayagunakan kemampuan visual (kemampuan penglihatan), auditori (kemampuan pendengaran), kinestetik (kesadaran pada gerak), serta taktil (perabaan) pada anak.

2.    Metode Fonik atau Bunyi memanfaatkan kemampuan auditori dan visual anak dengan cara menamai huruf sesuai dengan bunyinya. Misalnya, huruf B dibunyikan eb, huruf C dibunyikan dengan ec.

3.    Metode Linguistik adalah mengajarkan anak mengenal kata secara utuh. Cara ini menekankan pada kata-kata yang bermiripan. Penekanan ini diharapkan dapat membuat anak mampu menyimpulkan sendiri pola hubungan antara huruf dan bunyinya.

(Kompas. Selasa, 2 Agustus 2010)

C. Linguistik Klinis

Linguistik klinis merupakan cabang dari ilmu linguistik terapan yang berhubungan dengan masalah gangguan kebahasaan (Mulawarman, 2009). Seseorang yang mengalami ganggauan kebahasaan pada dasarnya dapat dikaitkan dengan dengan dua cabang ilmu dalam linguistik, yaitu neurolinguistik dan linguistik klinis. Neurolinguistik berkaitan dengan otak dan berbahasa sedangkan linguistik klinis berkaitan dengan penanganan terhadap gangguan pada otak akibat gangguan berbahasa.

Linguistik klinis perlu dikuasai oleh orang akan menangani penderita gangguan berbahasa. Hal tersebut disebabkan karena, penderita gangguan berbahasa membutuhkan teknik dan metode yang tepat untuk mengatasi penyakitnya. Jenis gangguan berbahasa bermacam-macam salah satunya disleksia. Cara penanganan penderita disleksia berbeda dengan penderita gangguan berbahasa lainya. Penderita disleksia perlu penangang yang tepat oleh tenaga berkompeten yang dapat menyesuaikan metode dan teknik dengan jenis gangguan berbahasanya.

D. Upaya Menciptakan Tenaga Pengajar yang Dapat Membimbing Penderita Disleksia dengan Terampil dan Profesional.

1. Melalui Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi sebagai lembaga yang menghasilkan tenaga-tanaga yang berkompeten pada semua bidang ilmu sudah sewajarnya untuk ikut berperan dalam menangani masalah penderita disleksia. Khusus untuk penanganan penderita disleksia bidang ilmu yang bertanggung jawab adalah jurusan pendidikan bahasa Indonesia dan jurusan pendidikan luar biasa.

Program-program studi tersebut belum maksimal dapat menghasilkan tenaga-tenaga yang berkompeten untuk menangani masalah penderita disleksia. Hal-hal yang dapat dilakukan kedua jurusan tersebut  menciptakan tenaga terampil dan profesional membimbing untuk penderita disleksia antara lain sebagai berikut.

a.       Jurusan menyusun silabus mata kuliah tertentu yang berhubungan dengan penderita gangguan berbahasa khususnya penderita disleksia. Misalnya, mata kuliah linguistik klinis, psikolinguistik, dll

b.      Silabus yang disusun tersebut dapat  memberikan keterampilan khusus kepada mahasiswanya dalam penanganan penderita disleksia.

c.       Membuat program khusus yang memacu kreatifitas mahasiswa untuk menghasilkan karya-karya yang inovatif dalam penanganan penderita Disleksia. Baik itu berbentuk karya tulis berupa artikel, makalah, penelitian maupun berbentuk produk yang dapat membantu penderita disleksia untuk mengatasi masalahnya.

Bentuk karya tulis itu bisa berisi ulasan tentang penderita disleksia maupun penciptaan metode atau teknik terbaru untuk membantu penderita disleksia. Sedangkan bentuk produk yang dihasilkan mahasiswa bisa bentuk alat-alat yang dapat yang dapat membatu penderita disleksia dalam membaca, menulis dan berkonsentrasi.

d.      Jurusan-jurusan yang berkaitan dalam penaganan masalah penderita Disleksia mewajibkan dosen-dosennya untuk terus berinovasi dalam pengembangan penganan masalah penderita disleksia. inovasi tersebut dapat berupa penelitian-penelitian terhadap masalah penderita disleksia.

e.       Memberikan pengharga kepada mahasiswa dan dosen yang telah berhasil mengahasilkan karya tulis yang berkualitas dan produk yang dapat dimanfaatkan oleh penderita disleksia.

2. Melalui Pemerintah

Pemeritah selaku pihak yang paling bertanggung jawab terhadap ketentraman dan kenyaman rakyat sudah seharusnya memperhatikan keterbatasan yang dialami penderita disleksia. Hal-hal yang dapat dilakukan pemerintah  mencipta tenaga trampil dan profesional untuk membimbing penderita disleksia antara lain sebagai berikut.

a.       Pemerintah harus lebih menyosialisaikan lagi tentang informasi yang berhubungan dengan penderita disleksia pada masyarakat. Sosialisasi dapat dilakukan dengan cara mengadakan seminar-seminar terbuka untuk umum, menyebarkan informasi terbaru melalui media cetak maupun elektronik.

b.      Menyediakan sarana dan prasaran yang lengkap untuk membantu penderita disleksia. Misalnya, mendirikan sekolah-sekolah berkebutuhan khusus (inkuisi) di setiap kelurahan atau minimal kecamatan di seluruh Indonesia.

c.       Bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk mengadakan pelatihan dan seminar yang sasaranya tenaga pengajar yang menagani penderita disleksia. Pelatihan dan seminar tersebut bertujuan untuk membah pengetahuan dan keterampilan tenaga pengajar tersebut agar lebih terampi dan profesional.

d.      Membuat program-program yang berhubungan denngan peningkatan mutu tenaga pengajar penderita disleksia. Misalnya, memberikan dana hiba kepada tenaga pengajar yang ingin meneliti dan mengembangkan metode pengajar untuk penderita dislaksia.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Upaya menciptakan tenaga pengajar yang dapat membimbing penderita Disleksia dengan terampil dan profesional dapat dilakukan melalui dua lembaga. Lembaga tersebut adalah lembaga perguruan tinggi sebagai pencetak tenaga kependidikan dan lembaga pemerintahan sebagai penangung jawab terpenuhinya kebutuhan pendidikan anak Indonesia khususnya untuk penderita disleksia.

Melalui perguruan tinggi dapat dilakukan upaya dalam menciptakan tenaga pengajar terampil dan profesional untuk penderita disleksia antara lain dengan menyusun silabus matakuliah yang berhubungan dengan penangan penderita disleksia, membuat program yang memacu kreatifitas mahasiswa dan dosen untuk mengahasilkan karya-karya yang inovatif, memberikan penghargaan kepada mahasiswa dan dosen atas karya inovatif yang telah dihasilkan. Melalui pemerintah juga dapat dilakukan upaya dalam menciptakan tenaga pengajar terampil dan profesional untuk penderita disleksia antara lain dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat umum informasi tentang penyakit disleksia dan cara mengahadapinya, menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk pelaksanaan pembelajaran penderita disleksia, bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk mengadakan pelatihan dan seminar yang bertujuan untukmengembangkan kompetensi tenaga pengajar penderita disleksia, membuat program-program yang berhubungan dengan peningkatan mutu pendidikan khusus penderita disleksia.

B. Saran

Upaya dalam menciptakan tenaga pengajar yang terampil dan profesional untuk penderita disleksia tidak terlepas dari kemauan dan kesungguhan dari semua pihak. Dengan demikian, diharapkan kepada pemerintah, masyarakat, dan keluarga penderita disleksia untuk terus ikut berpartisipasi aktif mendukung semua hal yang berkaitan dengan peningkatan mutu tenaga pengajar kependidikan khususnya tenaga pengajar  untuk penderita disleksia.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Dislexia. http://www.conectique.com/. Diakses tanggal 30 Agustus 2010

Baumer, Bernice H. 1996. How to Teach Your Dyslexic Child to Read. New York: Kensington Publishing Corp.

Devaraj S. dan  S. Roslan. 2006. Apa itu Disleksia, Panduan untuk Ibu Bapa, Guru, dan Kaunselor. dalam S. Amirin (penyunting). Kuala Lumpur: PTS Profesional.

Kompas. Selasa, 2 Agustus 2010

Mulawarman. 2009. Linguistik: Linguistik Terapan. http://belajar-matematika-belajar-matematika.html. Diakses tanggal 30 Agustus 2010.

Rustina. 2009. Dyslexia atau Disleksia : Kesulitan Mengeja, Membaca dan Menuli. http://www.ubb.ac.id/. Diakses tanggal 30 Agustus 2010.

Sakartini, Rini.2009. Deteksi Dini dan Tatalaksana Disleksia pada Anak. http://www.idai.or.id/. Diakses tanggal 30 Agustus 2010.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s