PEMEROLEHAN BAHASA ANAK (Kajian Mean Length of Utterance (MLU) pada Anak Usia 3 tahun 8 Bulan)

BAB I

PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang Masalah

Proses pemerolehan bahasa pada anak-anak merupakan satu hal yang perlu diteliti lebih mendalam. Bagaimana manusia memperoleh bahasa merupakan satu masalah yang amat mengagumkan dan sukar dibuktikan? Berbagai teori dari bidang disiplin yang berbeda telah dikemukakan oleh para pengkaji untuk menerangkan bagaimana proses ini berlaku dalam kalangan anak-anak. Memang diakui bahwa disadari ataupun tidak, sistem-sistem linguistik dikuasai dengan pantas oleh individu kanak-kanak walaupun umumnya tidak dalam pengajaran formal.

Pemerolehan bahasa merupakan satu proses perkembangan bahasa manusia. Ada dua proses yang terlibat dalam pemerolehan bahasa dalam kalangan anak, yaitu pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa. Dua faktor utama yang sering dikaitkan dengan pemerolehan bahasa ialah faktor nurture dan faktor nature. Nature merupakan pemerolehan bahasa yang sudah ada sejak lahir sedangkan nurture merupakan pemerolehan bahasa yang dipengaruhi oleh lingkungan secara alami.

Bayi-bayi yang baru lahir sudah mulai mengenal bunyi-bunyi yang terdapat di sekitarnya. Brookes (dalam Yusoff, 1995:456) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa dalam bentuk yang paling sederhana bagi setiap bayi bermula pada waktu bayi itu berumur lebih kurang 18 bulan dan mencapai bentuk yang hampir sempurna ketika berumur lebih kurang empat tahun. Menurut Simanjuntak (1982) pemerolehan bahasa bermaksud penguasaan bahasa oleh seseorang secara tidak langsung dan dikatakan aktif berlaku dalam kalangan anak-anak dalam lingkungan umur 2-6 tahun.

Pemerolehan bahasa dikaitkan dengan penguasaan sesuatu bahasa tanpa disadari atau dipelajari secara langsung, yaitu tanpa melalui pendidikan secara formal untuk mempelajarinya. Pengkajian tentang pemerolehan bahasa sangat penting terutamanya dalam bidang pengajaran bahasa. Pengetahuan yang cukup tentang proses dan hakikat pemerolehan bahasa akan membantu menentukan keberhasilan dalam bidang pengajaran bahasa.

Pemerolehan bahasa pertama ialah bahasa yang pertama kali dikuasai oleh anak yang biasa disebut bahasa ibu. Setiap anak yang normal pada usia di bawah lima tahun dapat berkomunikasi dalam bahasa yang digunakan di lingkungannya, walaupun tanpa pembelajaran formal. Dalam usia ini pada umumnya anak-anak telah menguasai sistem fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik dari bahasa pertamanya. Penguasaan atau perkembangan bahasa anak diperoleh secara bertahap.

Salah satu perkembangan bahasa yang khas dialami anak adalah perkembangan sintaksis. Pada periode awal anak menggunakan kalimat satu kata, kalimat dua kata, kalimat tiga kata, dan seterusnya sampai tahap kalimat lengkap strukturnya (agent-action-object-location). Jumlah elemen yang mengandung arti dalam kalimat yang diucapkan anak dapat dapat diukur dengan Mean Length of Utterance (MLU). MLU merupakan satu konsep yang digunakan untuk mengukur produk linguistik yang dihasilkan oleh seseorang anak. Secara umum, penghitungan MLU dilakukan dengan membagi bilangan morfem dengan bilangan ujaran. Artinya, jumlah bilangan ujaran yang diperlukan ialah 50 atau 100 ujaran utama anak. Semakin tinggi MLU anak maka semakin tinggilah penguasaan berbahasa anak tersebut.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana perkembangan bahasa pertama anak usia 3 tahun 8 bulan berdasarkan pengukuran MLU-nya?

C.   Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan bahasa pertama anak usia 3 tahun 8 bulan berdasarkan pengukuran MLU-nya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 A.   Pemerolehan Bahasa Pertama

Pemerolehan bahasa atau akuisisi adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang anak ketika dia memeroleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dari pembelajaran bahasa (language learning). Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia mempelajari bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua.

Setiap anak yang normal akan belajar bahasa pertama (bahasa ibu) dalam tahun-tahun pertamanya dan proses itu terjadi hingga kira-kira umur lima tahun (Nababan, 1992:72).  Dalam proses perkembangan, semua anak manusia yang normal paling sedikit memperoleh satu bahasa alamiah. Dengan kata lain, setiap anak yang normal atau mengalami pertumbuhan yang wajar memperoleh sesuatu bahasa, yaitu bahasa pertama atau bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama kehidupannya, kecuali ada gangguan pada anak tersebut.

Proses pemerolehan bahasa merupakan suatu hal yang kontroversial antara para ahli bahasa. Permasalahan yang diperdebatan antara para ahli adalah pemerolehan bahasa yang bersifat nuture dan nature (Dardjowidjojo, 2010:235). Ahli bahasa yang menganut aliran behaviorisme mengatakan bahwa pemerolehan bahasa bersifat nurture, yakni pemerolehan ditentukan oleh alam lingkungan. Ahli bahasa lain mengatakan manusia dilahirkan dengan suatu tabula rasa, yakni semacam piring kosong tanpa apa pun. Piring tersebut kemudian diisi oleh alam termasuk bahasany

Berbeda dengan ahli-ahli bahasa tersebut, Chomsky berpandangan bahwa pemerolehan bahasa tidak hanya didasarkan pada nurture, tetapi  nature. Anak tidak dilahirkan sebagai piring kosong atau tabula rasa, tetapi anak telah dibekali dengan sebuah alat yang dinamakan peranti pemerolehan bahasa. Setiap anak terbukti memiliki kesamaan dalam pemerolehan bahasa dan melewati proses yang sama dalam menguasai bahasa masing-masing. (Dardjowidjojo, 2010:236).

Kontroversi tersebut terus berlanjut walaupun sebagian ahli ada yang sependapat dengan Chomsky, tetapi faktor nurture juga tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Nature diperlukan karena bekal kodrati makhluk tidak mungkin dapat berbahasa. Nurture juga diperlukan karena tanpa adanya input dari alam sekitar bekal yang kodrati itu tidak akan terwujud.

 B.   Perkembangan Sintaksis

Pemerolehan sintaksis pada anak-anak dimulai pada usia kurang dari 2:0 tahun. Pada usia tersebut anak sudah bisa menyusun kalimat dua kata atau lebih two word utterance ‘Ujaran Dua Kata’ (UDK). Anak mulai dengan dua kata yang diselingi jeda sehingga seolah-olah dua kata itu terpisah. Dengan adanya dua kata dalam UDK maka orang dewasa dapat lebih bisa menerka apa yang dimaksud oleh anak karena cakupan makna menjadi lebih terbatas. UDK sintaksisnya lebih kompleks dan semantiknya juga semakin jelas (Dardjowidjojo, 2010:248). Ciri lain dari UDK adalah kedua kata tersebut adalah kata-kata dari kategori utama, yaitu nomina, verba, adjektiva, dan adverbia.

Menurut Brown (dalam Dardjowidjojo, 2010:249) anak usia 2;0 telah menguasai hubungan kasus-kasus dan operasi-operasi seperti pelaku-perbuatan (FN-FV), pelaku-objek (FN-FN), perbuatan-objek (FV-FN), perbuatan-lokasi (FV-FAdv), pemilik-dimiliki (FN-FV), objek-lokasi (FN-FAdv), atribut-entitas, nominative, minta ulang, tak-ada lagi. Walaupun, maknanya sudah jelas tetapi setiap ujaran anak harus disesuaikan dengan konteksnya.

C.   Pengukuran Mean Length of Utterance (MLU)

MLU merupakan pengukur untuk perkembangan sintaksis anak. Menurut Brown (dalam Dardjowidjojo, 2010:241) cara menghitung MLU dapat dilakukan dengan beberapa langkah, pertama mengambil sampel sebanyak 100 ujaran. Kedua, menghitung jumlah morfemnya. Ketiga, membagi jumlah morfem dengan jumlah ujaran, seperti pada rumus berikut.

Jumlah morfem

MLU = ————————-

Jumlah ujaran

Brown (dalam Owens, 2008) membagi tahap pemerolehan bahasa anak berdasarkan MLU anak menjadi sepuluh tahap, yaitu :

1.     Tahap I MLU (1—1,5)  pada usia 12—22  bulan

2.     Tahap II MLU (1,5—2,0) pada usia 27—28 bulan

3.     Tahap III MLU (2,0—2,25) pada usia 27-28 bulan

4.     Tahap IV MLU (2,25—2,5) pada usia 28—30 bulan

5.     Tahap V MLU (2,5—2,75) pada usia 31—32 bulan

6.     Tahap VI MLU (2,75—30,0) pada bulan biasa 33—34 tahun

7.     Tahap VII MLU (3,0—3,5) pada usai 35—39 bulan

8.     Tahap  VIII  MLU (3,5—3,45) pada usia 38—40 bulan

9.     Tahap IX  MLU (3,5—3,45) pada usia 41-46 duluan

10.   Tahap X MLU (45+) pada usia +47 bulan

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 A.   Data dan Sumber Data Penelitian

Sumber data penelitian ini adalah anak perempuan usia 3 tahun 8 bulan. Anak tersebut bernama Aura Putri Ramadhani.  Bahasa yang digunakan anak tersebut adalah bahasa Minangkabau. Bahasa tersebut merupakan pertamanya atau bahasa ibunya. Anak tersebut tinggal bersama orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang buah di Pasar Belimbing, Padang, Sumatera Barat. Dilahirkan di Padang, 30 September 2007. Sehari-hari anak tersebut ikut dengan orang tuanya bejualan di pasar dan sering berkomunikasi dengan para pedagang pasar tersebut. Data yang dikumpulkan berupa rekaman tuturan anak tersebut dengan orang tuanya. Data direkam dengan handphone.

 B.   Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian dikumpulkan melalui hasil rekaman tuturan anak dengan pedagang pasar. Alat yang digunakan untuk merekam adalah hanphone. Hasil rekaman ditranskripkan dengan ejaan fonemik dan diartikan ke dalam bahasa Indonesia. Data yang dikumpulkan hanyalah sebanyak 100 tuturan anak yang diambil sebagai sampel untuk mengukur MLU anak tersebut. Data diambil dari tanggal 2-10 Mei 2011. Lokasi perekaman ada dua yaitu di kedai buah ibunya dan dirumah mama/nenek.

 C. Teknik Analisis Data

Aspek linguistik yang dianalisis dalam kajian ini ialah sintaksis. Analisis akan dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Kaedah kuantitatif melibatkan analisis distribusi dan perkiraan MLU sebagai satu kaedah menentukan perkembangan bahasa anak tersebut. Penganalisisan data dapat dilakukan dengan empat langkah, yaitu:

  1. Pentranskripsian Data

Tuturan yang direkam melalui handphone ditranskrisikan dalam bentuk kalimat. Data yang terkumpul tersebut disusun dalam bentuk stuktur kalimat tuturan anak.

2.  Penyeleksian Data

Data yang telah ditransipsikan diolah dengan memisahkan data yang dibutuhkan dan memenuhi syarat yang sesuai dengan tujuan penelitian. tuturan anak yang diseleksi adalah tuturan yang memenuhi syarat untuk dihitung MLU-nya.

3. Pengklasifikasian Data

Data yang telah diseleksi sesuai dengan tujuan penelitian dan data yang dapat dihitung MLU-nya. Cara mengklasifikasikan data tersebut adalah dengan mengelompokkan tuturan anak berdasarkan jumlah morfem setiap tuturan. Selanjutnya, jumlah morfem setiap tuturan dijumlahkan (jumlah ujaran dibatasi hanya sampai 100 ujaran). Kemudian, jumlah morfem dari 100 tuturan tersebut dibagi dengan 100.

4. Pemaparan Hasil Analisis Data

Setelah diketahui hasil MLU, hasil tersebut dianalisis untuk mengetahui anak yang menjadi sampel penelitian berarada pada tahap apa dan menganalisis pemerolehan sintaksis dari segi panjang tuturan dan struktur sintaksis. Struktur sintaksis seperti jenis kata yang telah diperoleh dan pola kalimat diperoleh.

BAB IV

PEMBAHASAN

A.     Hasil Penelitian

Hasil rekaman tuturan anak yang telah ditranskripsikan ke ejaan fonetik yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia.

  1. Kalimat Satu Kata

Ndak ‘tidak’

Indak… ‘tidak…’

Alah ‘sudah’

Iyo ‘iya’

Manga?  ‘sedang apa?’

A?‘apa’

Ndak  ‘tidak’

Aloo  ‘halo’

Alun  ‘belum’

Lado ‘lada’

Iya ‘iya’

Mati ‘mati’

Ibu ‘ibu’

Mamam ‘makan’

Capek laaa..’cepatlah’

Capek lah ‘cepatlah’

Kakak  ‘kakak’

Ha? ‘apa?’

Datang ‘datang’

Busuk  ‘busuk’

Busuak ‘busuk’

Takanan ‘tekan ya’

Onda  ‘honda’

Iyow. ‘Iya’

ambik ah ‘ambillah’

Maeh. ‘Malas’

 

  1. Kalimat Dua Kata

Ulang liak  ‘ulang lagi’

Bica mah  ‘bisa itu’

Buluk ma  ‘buruk itu’

Tak ibu  ‘tidak ibu’

Dedek sayang  ‘adek sayang’

Dedek ibu  ‘adek ibu’

Nio pepaya  ‘mau pepaya’

Kakak ngomong  ‘kakak bicara’

Indak tauuo ‘tidak tau’

Alah mandi  ‘sudah mandi’

Nio apa? ‘mau apa?’

Sepuluh libu  ‘sepuluh ribu’

Cicak dinding ‘cicak di dinding’

Satu satu  ‘satu satu’

Cicak-cicak merapaya ‘cicak-cicak merayap’

Kupu-kupu belang ‘kupu-kupu bilalang’

Bu takanan? ‘bu tekan ya?’

Lah mati ‘sudah mati’

Pai malala  ‘pergi jalan-jalan’

Ibu ma ‘ibu itu’

Ibu kakak ‘ibu kakak’

Ibu ma  ‘ibu itu’

Yang ketek.!  ‘Yang kecil!’

Tadi pai. ‘ tadi pergi’

 

  1. Kalimat Tiga Kata

Itu dedek om  ‘itu adek Om’

Memek ibu mah ? ‘susu ibu mah?’

Banak pepaya tua  ‘banyak papaya itu’

Nio pepaya tu  ‘mau papaya itu!’

Pakai dagiang ado  ‘ada pakai daging’

Dedek sayang kakak  ‘adek sayang kakak’

Ndak ado do  ‘tidak ada itu’

Nyo pai malala  ‘dia pergi jalan-jalan’

I busuak nyo lai  ‘I dia busuk sekali’

Bia kaka pengang a  ‘biar kakak pegangnya’

Pai nyo malala ‘dia pergi jalan-jalan’

Tunggu lu kawan  ‘tunggu dulu teman’

Ngomong ma ibu  ‘bicara sama ibu’

Bayar pakil ya! ‘bayar parkir ya!’

Busuak nyo lai ‘dia busuk sekali’

Kakak campaan a ‘kakak buang ya’

Lah iduik nyo  ‘sudah hidup dia’

Mo ibu e  ‘sama ibu saja’

Kak sipak dedek ‘kakak tendang adek?’

Kakak tanggaan iko ‘kakak lepas ini!’

Sia mit lah pai  ‘Si mit sudah pergi’

Tampek mama bu ‘tempat mama bu’

Bundo naik onda ‘bunda naik honda’

Kakak imbau kia ‘kakak panggil Kia’

Kakak ,manga kakak? ‘kakak, sedang apa kakak?’

Tampa cek ko ‘ditampar satu kali nanti’

Apo cek nyo? ‘Apa katanya?’

Nyo apo tu.? ‘Dia apa itu?’ 

  1. Kalimat Empat Kata

Kakak gigik ape ko ‘kakak gigit hp ini!’

Bu ulang liak bu ‘Bu ulang lagi, Bu?’

Mama tadi lah pai ‘Mama tadi sudah pergi’

Ndak do ulang e tu do ‘tidak ada orangnya itu’

Capek lah nio papaya ‘cepatlah mau pepaya’

Capek lah buni-bunian tu ‘cepatlah bunyi-bunyian itu’

Bu ulang liak bo ’Bu, ulang lagi Bu’

Ndak do mati doh ‘tidak ada dia mati’

Bu ulang liak bu ‘bu ulang lagi bu?’

Beko wak pai dih. ‘Nanti kita pergi ya?’

a.. cek nyo tu? ‘ apa katanya itu?’

Ntuak ibu yang ketek. ‘Untuk ibu yang kecil’

Ndak nio kakak lai. ‘Tidak mau kakak lagi.’

Ndak main hp dak. ‘Tidak main hp tidak’

  1. Kalimat Lima Kata

Bang do ce lah pai ‘Bang Edo saja sudah pergi’

Ndak do do nyo mati do ‘tidak ada dia mati itu’

Bintang kicil bilalang kupu-kupu ‘bintang kecil bilalang kupu-kupu’

Bu ado kaset cicak-cicak ‘Bu ada kaset cicak-cicak’

nyo tenju-tenju abang adek. ‘dia tinju-tinju abang adek’

ibu lai tau namo nyo? ‘ibu sudah tahu nama dia?’

Ntuak ibu yang ketek dulu. ‘Untuk ibu yang kecil dulu’

 B.     Pembahasan

Tabel 1 Analisis Panjang Tuturan

Jumlah Kata Per Tuturan

Jumlah Tuturan

Jumlah Morfem

Kalimat satu kata 26 26
Kalimat dua kata 25 50
Kalimat tiga kata 28 84
Kalimat empat kata 14 56
Kalimat lima kata 7 35
Total 100 251

                   Jumlah morfem

MLU = ———————-

Jumlah tuturan

251

= ———— = 2,51

100

Berdasarkan hasil pengukuran MLU di atas, panjang tuturan Aura 2,51 kata per tuturan. Bila disesuaikan dengan pendapat Brown, Aura masih pada tahap V yang berarti pemerolehan bahasa masih rendah karena pada usia Aura sekarang seharusnya MLU berada pada tahap VIII, yaitu MLU berkisar antara 3,5—3,45 kata per tuturan.

Berdasarkan data yang diperoleh dan dikelompokkan, Aura telah mampu bertutur dari kalimat satu kata sampai kalimat lima kata. Jenis kata yang sudah dikenal Aura adalah nomina (N), verba (V), Adjektiva (Adj), Adverbia (Adv)

N                              Lado ‘lada’, Onda  ‘honda’, Ibu ‘ibu’

V                    Pai malala  ‘pergi jalan-jalan’

Adj                 Busuak ‘busuk’, maeh ‘malas’

Adv                Cicak dinding ‘cicak di dinding

Bila dilihat dari pola kalimat, Aura telah mampu bertutur dengan pola dengan pola dasar seperti FN+FN, FN+FV, FN+FAdj, FN+Adv.

FN+FN           Memek ibu mah ? ‘susu ibu mah?’

FN+FV           Kakak ngomong  ‘kakak bicara’

FN+FAdj        Dedek sayang ‘adek sayang’

FN+Adv                   Cicak dinding ‘cicak di dinding

 

BAB V

PENUTUP

 A.   Simpulan

Simpulan yang dapat dibuat berdasarkan dapatan analisis terhadap Aura yang berusia 3 tahun 10 bulan adalah sebagai berikut.

  1. Analisis tuturan menunjukkan Aura mempunyai MLU 2,51 berada pada tahap V yang berarti berada pada tahap rendah. Pada usia Aura tersebut seharunya MLU-nya berada pada tahan VIII yang MLU-nya antara 3,5—3,45.
  2. Jenis kata yang telah diperoleh dan dtuturkan oleh Aura antara lain nomina, verba, adjektiva, dan adverbia.
  3. Aura telah mampu bertutur dari kalimat satu kata sampai kalimat lima kata yang berarti Aura telah mampu bertutur kalimat lengkap.
  4. Aura telah mampu bertutur membentuk pola kalimat dasar, seperti FN+FN, FN+FV, FN+FAdj, FN+FAdv.

DAFTAR PUSTAKA

Darjowodjojo, Soenjono. 2010. Psikolinguistik: Pengatar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Nababan dan Sri Utari Subyakto. 1992. Psikolinguistik: Suatu Pengatar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Owens, J.E. 2008. Excerpt from Language Development: An Introduction. Dalam http://www.education.com/reference/article/acquisition-sentence-form. Diakses tanggal 30 Mei 2011

Simanjuntak, Mangantar. 1982. Pemerolehan Bahasa Melayu: Bahagian Fonologi. Jurnal Dewan Bahasa, Ogos/September, 615-625.

Yusoff, Abdullah dan Che Rabiah Mohamed (1995). Teori Pemelajaran Sosial dan Pemerolehan Bahasa Pertama. Jurnal Dewan Bahasa, Mei. 456-464.

 

 

 

 

 

 

 

 


 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s