sastra

Analisis Novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro oleh Witri Annisa

5 cm

Pengarang : Donny Dhirgantoro

Penerbit     : PT Gramedia Widiasarana Indonesia, cetakan pertama Mei 2005, …, cetakan ketigabelas Maret 2009

Analisis didasarkan pada cetakan ketigabelas.

A.     Ikhtisar

Lima sahabat yang terdiri dari Arial, Genta, Zafran, Ian, dan satu-satunya cewek, Riani. Persahabatan mereka dimulai sejak SMA. Mereka sering ngumpul, cerita, diskusi dari hal yang penting yang tidak penting, dari hal serius sampai hal yang aneh, dari main monopoli sampai VCD Bokep, terkadang mereka berfilosofi yang cukup cerdas tentang pendidikan, politik, nasionalisme, dll.

Setelah bosan mengelilingi Jakarta, mereka sepakat main monopoli di rumah Arial. Yang paling menyambut gembira kesepakatan itu adalah Zafran, bukan karena main monopolinya, tetapi karena akan ada kesempatan bertemu Adinda, kembaran Arial. Zafran sangat menyukai saudari sahabatnya itu.

Tempat yang paling favorit mereka ngumpul adalah Secret Garden, di rumah Arial. Di sanalah tempat mereka mencurahkan segala keluh kesah, sedih-gembira, canda-tawa dan di Secret Garden juga mereka memutuskan untuk tidak saling bertemu dan berkomunikasi selama tiga bulan. Mereka memutuskan itu karena merasa jenuh dengan dunia yang mereka jalani selama ini yang selalu berlima, kehidupan standar-standar aja. Mereka merasa tidak menemukan diri mereka sebenarnya, mereka ingin melihat dunia luar dan ingin punya mimpi.  

Sejak saat itu mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Genta sibuk dengan Event Organizer-nya selalu merindukan bertemu Riani, sahabat sekaligus wanita idamannya. Ian yang mulai menyentuh skripsi yang sudah lama ditinggalkannya. Usaha Ian menyelesaikan skripsinya berhasil berkat bimbingan dengan dosennya, Pak Sukoto Legowo. Arial yang sibuk fitness, kuliah, PDKT dengan Indy—yang dikenalnya di tempat fitness—dan akhirnya jadian di Puncak, Bogor. Zafran yang terus berusaha mendekati dan bertemu dengan dinda. Rian yang cantik, cerdas dan selalu memperhatikan penampilan ini sibuk di mengurus urusan kantornya.

Sampai waktunya, yaitu tanggal 7 Agustus, Genta menge-SMS  kelima sahabatnya untuk berkumpul kembali pada tanggal 14 Agustus di Stasiun Kereta Senen dengan membawa perlengkapan mendaki dan makanan untuk empat hari. Mendapat SMS dari Genta, empat sahabat lainnya sangat gembira. Mereka berkumpul di Stasiun Kereta api Senen tepatnya di restoran padang, selain lima sahabat tersebut Adinda juga ikut dalam rombongan. Mereka meluapkan kegembiraanya yang selama ini tependam. Dengan barang bawaan masing-masing, mereka naik kereta api ekonomi Matarmaja trayek Malang—Jakarta.

Selama perjalanan mereka bercerita, bercanda, dan berfilosofi sepuasnya, mereka sangat menikmati perjalanan kereta api ekonomi walaupun begitu panas, padat dan sesak. Banyak pengalaman yang mereka peroleh selama di kereta. Mereka bertemu orang baru, memelihat pahitnya hidup rakyat pedesaaan, melihat indahnya alam, dan menambah kecintaan mereka pada Indonesia dari makanan khas tradisional yang mereka beli di beberapa station tempat kereta berhenti. Kereta api berhenti dibeberapa stasiun dan akhirnya sampai di stasiun Malang.

Setelah sampai di stasiun terakhir, mereka melanjutkan perjalanan menuju Mahameru. Perjalanan menuju puncak Mahameru penuh tantangan. Mereka berhenti dibeberapa tempat untuk beristirahat sebelum sampai ke puncak Mahameru. Mereka bertemu dengan beberapa gerombolan pendaki lain yang juga ingin ke puncak Mahameru tepat pada tanggal 17 Agustus. Tempat istirahat pertama mereka adalah Ranu Pane. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan dengan menelusuri jalan setapak, lembah ilalang, hutan  dan melawan angin Semeru yang dinginnya menusuk tulang dan sampai di Ranu Kumbolo. Di sana mereka kembali menyaksikan keindahan alam yang diibaratkan surganya Sumeru. Setelah istiharat di Ranu Kumbolo mereka melanjutkan perjalanan menuju Arcopodo. Di sana mereka menemukan banyak batu nisan para pendaki yang hilang di gunung tersebut. Tantang terakhir yang harus mereka hadapi sebelum sampai ke puncak Mahameru adalah medan berpasir penuh kerikil yang sangat terjal, bila tidak hati-hati nyawa taruhannya. Rintang terakhir telah terlewati walaupun beberapa diantara mereka ada yang cidera, tetapi perjuangan mereka menuju puncak telah tercapai. Mereka bersama rombongan lain mengadakan upacara bendera 17 Agustus di puncak tertinggi Pulau Jawa, Indonesia. Setelah upacara sakral itu, mereka kembali menelusuri lembah Semeru dengan kebanggaan dan rasa cinta tanah air yang menggebu. Dalam perjalanan pulang, mereka istirahat di Ranu Kumbolo, di sanalah akhirnya Genta menutarakan isi hatinya pada Riani, tetapi diluar dugaan Riani curhat pada Genta tentang perasaanya pada Zafran. Genta sangat terkejut, tetapi ikut bahagia mendengarnya. Zafran yang menguping pembicaraan Genta dan Riani tersadar bahwa ternyata ada gadis yang lebih mencintainya dibandingkan Adinda.

Perjuangan menuju puncak Mahameru memberi banyak pelajaran berharga bagi mereka dalam memaknai hidup terutama bagaimana menggapai mimpi.  Mereka percaya semua keyakinan, harapan, cita-cita dan mimpi taruh menggantung 5 cm di depan kening maka semua itu akan tercapai dengan disertai doa. Perjalanan hidup mereka tidak luput dari cerita cinta yang berakhir dengan pasangan yang telah ditakdirkan, seperti Zafran dengan Riani, Arial dengan Indy, Genta dengan Ica (sahabat Riani), Adinda dengan Daniek, Ia dengan Bunda Happy.

B.      Alur

Alur yang dikembangkan pengarang diantaranya. Menggambarkan perjalanan persahabatan lima anak muda modern, cerdas, tetapi kekanak-kanakan. Persahabatan dimulai sejak SMA. Di salah satu tempat favorit mereka ngumpul, yaitu Secret Garden mereka memutuskan untuk tidak bertemu dan berkomunikasi selama tiga bulan, tujuannya adalah untuk mencari kehidupan baru dan mencari mimpi yang belum mereka miliki.

Tepatnya tanggal 14 Agustus mereka berkumpul lagi di stasiun kereta api Senen untuk melakukan perjalanan menuju Malang. Selama perjalanan mereka meluapkan segala kerinduan yang terpendam karena sudah lama tidak bertemu. Selama perjalanan di kereta api juga, mereka banyak menemukan hal-hal yang menabjukkan yang selama ini tidak mereka temukan di Kota Jakarta. Mereka melihat keindahan alam Indonesia, mereka melihat kehidupan keluh kesah rakyat pedesaan, mereka merasakan makanan tradisional Indonesia yang khas.

Berikutnya, setelah melakukan perjalanan yang melelahkan di kereta, mereka melanjutkan pertualangan yang sangat menantang menuju Mahameru. Menuju puncak Mahameru tidaklah mudah, mereka harus melawati beberapa rintang seperti, melewati jalan setapak, hutan, lembah ilalang, jalan terjal berkerikil yang digambarkan pengarang secara jelas. Lebih dari itu, mereka sangat menikmati keindahan alam Indonesia salah satunya Mahameru karena banyak tempat-tempat yang menabjubkan bagi mereka seperti Ranu Pane, Ranu Kumbolo, Archopodo, Kalimati dan terakhir puncak Mahameru. Perjuangan mereka berbuah hasil, yaitu dapat mengikuti upacara tepat tanggal 17 Agustus di puncak tertinggi Pulau Jawa bersama pendaki lainya.

Pangarang tidak hanya menggambarkan bagaimana perjalanan para anak muda tersebut menuju Mahameru, tetapi juga menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialami kelima tokoh tersebut selama tidak bertemu. Seperti, Ian yang kembali sibuk menyelasaikan skripsinya, selalu mebimbingan, merevisi, dan bimbingan lagi dengan dosennya. Ian berjuang keras menyelasaikan skripsinya dan harus melawan hobi buruknya yaitu, main PS dan nonton VCD Bokep. Pejuangan tersebut berhasil, Ian akhirnya dapat ujian skripsi sesuai harapannya. Sedang Genta sibuk mengurus event organizer-nya. Zafran sibuk dengan aktivitasnya membuat desain, main games, nonton, dengerin musik. Riani juga sibuk dengan urusan kantornya. Arial juga sibuk kuliah dan fitness. Selain peristiwa-peristiwa tersebut, pengarang juga tidak luput membumbuhi cerita cinta dalam persahabatan. Seperti, Genta yang sangat mencintai Riani, tetapi pada akhirnya bersama Citra, sahabat Riani. Riani yang mencintai Zafran, tetapi  Zafran sangat menyukai Adinda, kembaran Arial. Namun, akhirnya Zafran sadar kalau ada yang lebih mencintainya yaitu Riani.  Arial yang PDKT dengan Indy teman yang dikenalnya di tempat fitness.

Hubungan antara bagian alur terpisah-pisah. Pengarang mengisahkan peristiwa yang di alami kelima tokoh dalam alur yang berbeda. Peristiwa yang dialami satu tokoh tidak dialami oleh tokoh lain. Selain itu, hubungan keterkaitan peristiwa yang dilami antartokoh tidak ada hubungan, kecuali dalam peristiwa perjalanan menuju puncak Mahameru. Pengarang mengambarkan peristiwa yang terjadi diperjalanan di stasiun, dalam kereta api, dan di gunung Semeru cukup jelas dengan membumbui cerita cinta yang cukup mengaharukan.

Dari alur yang digambarkan pengarang terdapat konflik lahir dan konflik batin. Konflik lahir adalah peristiwa yang dialami tokoh selama tidak bertemu, rintangan-rintangan yang dihadapi menuju Puncak Mahameru yang dimulai dari Matarmaja, Lempuyungan, hutan jati Madiun, Ngajuk, angkot Mas Gembul, perjalanan diatas Jib dan padang pasir, Ranu Pane, Keajaiban hati yang mereka tinggalkan di Ranu Kumbolo, padang ilalang, hutan misterius, edelweis, Kalimati, Arcopodo, surat dari Daniek untuk Adrian, Arial yang tidak kenal nyerah, hujan batu, dinda dan Ian yang tergeletak, teriakan Zafran yang memanggil Ian, dan sembah sujud di puncak Mahameru (hal 343). Sedangkan konflik batinnya disampaikan pengarang secara tersirat, yaitu pada setiap tokoh mengalami konflik batin untuk melawan rasa rindu ingin bertemu sahabatnya, rasa ingin menggapai mimpi, cita-cita, dan cinta dengan cara mengantungkanya 5 cm di depan kening sembari bedoa agar keinginan itu tercapai. Namun, pengarang tidak mejelaskan secara jelas kemungkinan terburuk yang akan mereka hadapi atau dengan kata lain pengarang tidak memberikan ganjaran sedikitpun pada tokoh yang melakukan kesalahan, seperti Zafran yang tidak memberitahu orang tuanya untuk melakukan perjalanan karena takut tidak diberi izin. Mungkin alasan pengarang tidak memberikan ganjaran karena perjuang mereka menuju Puncak Mahameru adalah tujuan mulia, yaitu mengibarkan dan merayakan hari kemerdekaan sebagai wujud syukur bangsa Indonesia.

C.      Pelaku

Pelaku-pelaku yang ada dalam novel 5 cm diantaranya sebagai berikut.

  1. Genta
  2. Riani
  3. Ian
  4. Zafran
  5. Arial
  6. Adinda, adik dan kembaran Arial
  7. Indy
  8. Pak Sukoto Legowo, dosen pembimbing skripsi Ian
  9. Ibu-ibu penjual makanan di stasion

10. Daniek, sesama pendaki

11. Suhartono alias Mas Gembul, sopir angkot

Dalam novel 5 cm, pelaku dituturkan sebagai orang ketiga. Berdasarkan perananya, lima sahabat tersebut yang menjadi pelaku utama, yaitu Genta, Arial, Ian, Zafran, dan Riani. Kelima pelaku tersebut yang menjadi kunci pembangun cerita dan peristiwa dalam novel ini. Pelaku-pelaku lain sebagai pendukung cerita dan peristiwa saja.

  1. Penamaan

Pengarang dalam memberikan beberapa nama pada tokoh bukan tanpa alasan. Beberapa nama ada yang berkaitan dengan bentuk fisik, perilaku, dan hobi tokoh tersebut. Genta adalah pemimpin dalam kelompok itu, sesuai namanya Genta yang berarti bunyi yang keras dari alat musik, jadi setiap apa yang dikatakan Genta selalu didengar oleh sahabatnya dan selalu menjadi temapat curhat sahabatnya (hal 14). Selain itu, Zafran yang disebut pengarang sebagai penyair bimbang karena dia karena suka berpuisi. Didengar dari bunyinya nama Zafran senada dengan penyair Kahlil Gibran yang juga idolanya (hal 10). Selain itu, penamaan Arial juga adalah alasannya. Penamaan Arial yang mirip dengan salah satu jenis tulisan yaitu Arial blod atau Arial control B (hal 6). Bentuk fisik arial yang tinggi gede plus item, tetapi ganteng yang membuat tokoh tersebut diberi nama Arial.

2. Pemerian

Pemerian tokoh dilakukan pengarang dengan cara pengindraan dan perasaan.  Melalui pengindraan pengarang menggambarkan bentuk fisik Riani yang cantik, berkaca mata, cerdas mirip arti hollywood (hal 8). Bentuk fisik Arial yang tinggi, gede, plus hitam (hal 6). Bentuk fisik Ian yang bengkak karena hobi makan, main, dan nonton VCD Bokep (hal 11). Selain itu, bentuk fisik Zafran yang kurus seperti kapur tulis dan identik dengan anak band dan seniman  (hal 10).  Pengarang juga memberikan komentar tentang sifat tokoh tokoh, seperti Zafran yang disebut penyair bimbang karena suka puisi (hal 10), Genta sebagai Leader punya jiwa pemimpin (hal 12). Pengarang menggambarkan sifat kekanak-kanakan tokok dengan menyebut mereka gerombolan Power Rangers (hal 20).

3. Pernyataan Tokoh Lain

Kelebihan dan kekurangan tokoh lain diceritakan melalui tokoh lain seperti saat para sahabat mengakui kehebatan bidang tarik suara, biana vokalis, main gitar (hal 35). Riani yang memuji suara Zafran setingkat diatas Ian (hal 36). Penyataan Ian tentang Arial yang suka fitness tetapi masih kena tipes (hal 17).

4. Percakapan Dialog dan Monolog

Gambaran perilaku tokoh juga ada dalam dialog dengan tokoh lain maupun monolog. Dialog antartokoh seperti percakapan antara lima sahabat yang membahas tentang pendidikan, demontrasi di DPR (politik), filsafat dan film luar negeri maupun maupun filam dalam negeri, artis dalam negeri maupun luar negeri, lagu barat maupun dangdut (hal hampir ada disetiap percakapan).  Hal tersebut menunjukkan mereka anak muda modern yang haus informasi. Kecerdaan Riani dan terlihat dalam perdebatan membahas emansipasi wanita (hal 58). Percakapan antara Ian dengan pendaki lainnya (Daniek, dkk) tentang kamera Nikon miliknya dan membahas tentang lensa kamera yang bagus hasilnya (hal 208). Hal tersebut menujukkan Ian anak muda modern yang tidak gaptek.

Monolog yang dilakukan tokoh salah satunya adalah monolog Riani yang membanti dalam hati dan berkata “kita memang bareng terus dari dulu, emang pernah ada rasa bosen tapi pastinya nanti akan cair dengan segala kegilaan yang cerdas dan kebaikan hati masing-masing” (hal 61). Riani sangat bangga dengan semua sahabatnya baik kelebihan dan kekurangan yang dimiliki masing-masing.

5. Tingkah Laku Tokoh

Gambaran tingkah laku tokoh tampak dalam tingkah lakunya. Seperti Zafran menyanyikan syair-syair lagu yang bagus karena memang dia vokalis band (hal 10), berfilosofi saat perjalanan di kereta bersama Genta tentang Socrates dan Plato (hal 157). Rasa  kasih sayang Arial pada Indy yang ditunjukan dengan kecupak dikening Indy (hal 102). Tingkah laku genta yang selalu memperhatikan gerak-gerik Riani (hal 28).tingkah laku para tokoh yang masih masih main monopoli (hal 25), main PS (hal 11) dan nonton dan jalan-jalan (hal 15).  Sikap tenang dan jiwa pemimpin Genta saat berada di hutan misterius di Semeru (292) untuk menuntun sahabatnya menuju puncak Semeru walaupun dia pernah punya pengalaman tersesat di hutan tersebut. Di puncak Mahamameru mereka bersujud syukur untuk mengucapkan terima kasih kepada tuhan yang telah menghidupi mereka, yang telah memberi mereka tanah dan air, dan yang mencintai mereka setiap hari (hal 344).

D.     Latar

Latar yang digambarkan pengarang dalam novel ini adalah kehidupan modern anak muda di kota besar Jakarta (hal 15). Puncak Bogor (hal 94-103), kampus Ian (hal 143), stasiun kereta api, dan Gunung Semeru.

  1. Rumah Arial  di Secret Garden

Secret Garden merupakan tempat favorit mereka berkumpul. Daun-daun dengan bulir air yang melekat seghabis hujan dengan lampu taman yang kekuningan membuat suasana Secret Garden semakin merona dan sepasukan bintang pun menemani obrolan mereka. Bau tanah yang basah pun hinggap dipenciuman mereka (hal 33).

2. Puncak, Bogor

Sepulang dari pesta ulang tahun Asri sahabat Indy, Arial mengajak Indy ke vila keluarganya yang masih sekitar puncak, tepatnya di suatu beranda bergaya arsitektur Spanish California dengan pencahayaan redup kuning kecoklatan semabari ditemani udara dingin yang menusuk serta bintang malam yang menghiasi langit Puncak, Bogor (hal 98).

3. Kampus Ian

Di kampus ini Ian melakukan bimbingan intensif dengan dosennya. Ujian Skripsi dan dan akhirnya memperoleh gelar sarjana (143).

4. Rumah Ian

Setiap selesai bimbingan dengan dosen siangnya. Pada malam hari, Ian membaca buku-buku referensi yang berhubungan dengan skripsinya. Bosan baca di tempat tidur, Ian pindah ke balkon rumah (hal 113). Setelah membaca Ian kembali mengetik dan merevisi skripsi berdasarkan saran dosennya dengan ditemani Si kompibaiksekalitemenIan (komputer kesayangan Ian) (hal 108-112).

5. Stasiun kereta api (Jakarta—Lempuyang, Yogyakarta—Madiun—Blitar—Malang)

Beberapa stasiun mereka singgahi  dari Jakarta—Malang. Mereka berangkat dari stasiun Senen, Jakarta menaiki kereta ekonomi Matarmaja yang tampak tua, kumuh, kaca-kaca yang sudah pecah, hawa panas yang menyengat (hal 148). Kereta api melawati daerah Cirebon, disinilah mereka menikmati keindahan sawah-sawah dan udara pedesaan yang menyejukkan (hal 154). Setelah meninggalkan Cirebon kereta sampai di stasiun Lempayung, Yogyakarta pukul setengah tiga malam (171), di sana mereka bertemu para penjual nasi pecel, telur asin, minuman. Kesan yang mereka rasakan di sini adalah keprihatinan kehidupan rakyat pedesaan, terutama Ibu-ibu dan anak-anak yang sudah dini harus masih harus berjualan untuk menghidupi keluarganya.  Pukul 06.30 mereka sampai di stasiun kereta Madiun (hal 180), di sini mereka menikmati makanan khas tradisional Madiun yaitu nasi lontong, pecel madiun, dan lempeng. Kereta api terus meluncur melewati stasiun Blitar (hal 183) dan akhirnya sampai stasiun Malang jam setengan tiga sore (hal 193).

6. Gunung Mahameru (Ranu Pane—Ranu Kumbolo—Arcopodo—Puncak Mahameru)

Latar Mahameru disajikan pengarang  dengan menggambarkan keadaan alam yang ada disana. Udara dingin yang menusuk, jalan pedesaan yang menanjak yang hanya bisa ditempuh dengan naik Jib. Tempat peristirahatan mereka yang pertama adalah Ranu Pane dengan suhu 15 derejat Celcius dan Suasana sangat ramai dipenuhi pendaki lain juga ingin mendaki (hal 217). Pukul 04.30 mereka melanjutkan perjalanan melewati komplek kuburan kecil yang cukup membuat bulu kuduk merinding, asap putih yang mengepal, bergerak membumbung tinggi dibawa angin dingin (hal 234). Mereka melewati melihat lembah dalam penuh alang-alang dan akhirnya sampai di Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo adalah danau di ketinggian dengan pohon pinus cemara yang berbaris rapi disekelilingnya. Air danau tampak mengkilap diterpa matahari, dari kejauhan terlihat seperti mangkok raksasa yang indah (hal 253). Setelah istirahat di Ranu Kumbolo mereka melanjutkan perjalanan menuju Archopodo (hal 311), tetapi sebelum itu mereka harus melewati hutan misterius (hal 292) dan Kalimati (299). Sekali lagi mereka ditabjubkan dengan keadaan alam sangat dasyat, untuk sampai ke puncak Mameru tahapan rintangan terakhir yang harus mereka leawti adalah medan berkerikil terjal, bila tidak hati-hati atau kehilangan keseimbangan nyawa sendiri atau teman bisa melayang.  Dan akhirnya sampai di Puncak Mahameru untuk mengibarkan sang merah putih tepat pada tanggal 17 Agustus.

E.      Tema

Tema-tema yang disampaikan pengarang melalui novel ini antara lain tema sosial, tema moral, dan tema percintaan. Tema sosial telihat dari bagaimana komitmen untuk terus menjaga persahabatan dengan menyelesaikan masalah (hal 37-43), menepati janji (hal 145), saling membantu, menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing baik susah maupun senang terlihat selama perjalanan menuju puncak Mahameru. Tema moral yang diungkap disini adalah sedikit rapuhnya tembok pertahanan hawa nafsu anak muda seperti hobi nonton VCD Bokep. Selain itu, tema moral yang diungkap juga adalah perjuangan anak muda untuk tetap bangga pada negeri Indonesia baik ditengah problematika yang ada. Sesungguhnya Indonesia kaya akan jiwa-jiwa muda pembela negara dan kaya dengan masyarakat yang berbudi luhur.  Hal tersebut terlihat saat pembicaran mereka selama perjalanan dari Jakarta sampai Pundak Mahameru. Tema percintaan juga dibumbui oleh pengarang dengan menciptakan beberapa pasangan yang tidak diduga sebelumnya dan seperti lingkaran cinta persahabatan.

F.       Nilai

Berdasarkan strukturnya, novel ini termasuk bernilai sastra karena mengandung nilai sosial kemasyarakatan. Nilai-nilai tersebut tergambar dari sikap para tokoh dalam memaknai hidup untuk menggapai mimpi dengan belajar, melihat, dan merasakan sendiri kehidupan rakyat pedesaan selama perjalanan di kereta. Pengarang juga menyajikan gambaran perbedaan kehidupan masyarakat kota dengan masyarakat pedesaan. Selain itu, nilai pendidikan dan politik juga digambarkan pengarang. Seperti pejuangan Ian untuk mencapai gelar sarjananya dan cerita keikut sertaan anak muda tersebut dalam demontrasi untuk reformasi pada tahun 1998.

G.     Sikap Pengarang

Dari pembicaraan alur dan tema, dapat dilihat kecenderungan pengarang masuk pada logika. Novel ini menceritakan bagaimana sekelompok anak muda berusaha mencari jati diri dan menggampai mimpi dengan mengantungkanya di depan kening 5 cm dengan terus berusaha dan berdoa. Tidak ada hal yang tidak mungkin dilakukan selagi mau berusaha, berdoa, dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan tuhan baik rezeki maupun jodoh.

H.     Tipe Novel

Bentuk karangan        : 5 cm berbentuk prosa

Sifat Karangan             : 5 cm bersifat fiksional

Kesan Kejadian      : 5 cm mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari karena latar (tempat, waktu dan suasana) yang dicerita benar-benar ada

Ukuran                         : 5 cm cerita panjang karena terdiri dari 379 halaman.

Standar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s